akhirnya memutuskan untuk menghapus beberapa (gak beberapa sih, cukup banyak) post yang memuat banyak foto sebelum post ini. Termasuk disana beberapa cerita liburan, pagelaran, kisah random di kelas dan lain sebagainya.
setelah memutuskan berhijab 2011 lalu awalnya ingin membiarkan saja jejak-jejak itu tetap ada, toh itu semua bagian dari perjalanan dan cerita. tapi akhirnya gak tau kenapa mantap untuk menghapusnya, dari sini dan beberapa platform lain, biar jejaknya disimpan untuk diri sendiri saja :)
bismillah, doakan selalu istiqomah :>
Thursday, August 22, 2013
Sunday, August 18, 2013
................
Sudah berapa
kali 18 Agustus dalam hidup kalian?
Malam ini, di 18 Agustus keenam belas saya, Bogor diguyur hujan. Hujannya tidak lebat, tidak ada guntur, tidak ada petir ataupun angin kencang, tapi juga bukan hujan gerimis kecil-kecil. Hanya hujan. Dengan suara rintiknya yang akan menjadi lagu pengantar tidur terbaik. Karena itu, semoga di menit awal hari ini, kalian semua, siapapun dan dimanapun, akan tidur lebih nyenyak lewat suara rintik hujan malam ini.
Enam belas tahun yang lalu, di 18 agustus pertama saya, seorang ibu dan ayah yang paling saya cintai di jagat raya memperkenalkan saya pada dunia, memperdengarkan saya pada nyanyian hidup, dan memperlihatkan pada saya gunung tinggi dan lautan luas. Kala itu, saya tidak tahu harapan dan do’a apa yang ada dalam hati mereka. Saya tidak tahu apakah saya yang sekarang adalah segala hal yang terselip dalam do’a mereka terdahulu atau tidak. Saya tidak tahu apakah saya sekarang menjadi seperti yang mereka inginkan atau tidak. Tapi mereka selalu membiarkan saya untuk mencari jalan saya sendiri, mereka membiarkan saya untuk merajut mimpi saya, mengukir cita-cita saya, merangkai masa depan saya, dan merasakan krikil tajam dalam jalan saya. Dan sejak 18 Agustus pertama saya hingga detik ini, mereka selalu menjadi nomor satu untuk hampir semua daftar saya. Untuk orang yang saya sayang. Untuk orang yang saya ingin banggakan. Untuk orang yang tanpanya saya bingung hidup akan seperti apa.
Kalau kita harus punya satu hari untuk merenung, maka hari inilah yang saya pilih.
Ketika saya sadar bahwa di 18 Agustus keenam belas saya, saya masihlah perempuan remaja yang sering mengeluh, yang sering lupa dengan berjuta kebaikan dan kenikmatan yang saya punya, saya masih sering tidak bisa ikhlas dan berlapang dada, saya masih sering memprotes untuk skenario diluar kehendak saya. Maka, harapan kecil saya malam ini hanyalah agar Allah memberikan hati saya kelapangan yang lebih, memberikan hati saya damai yang lebih, menguatkan bahu dan kaki saya, menajamkan mata saya, memperhalus sifat saya untuk meninggalkan segala hal buruk dalam 16 tahun terakhir.
Karena itu saya ingin melihat segala hal lebih dekat hari ini, dan karena kita kadang sulit melakukannya setiap hari, maka untuk hari ini, saya ingin bisa mensyukuri segala hal yang mampu saya lihat, dengar, dan rasakan lebih dari biasanya. Entah itu sekedar sekeping senyum dari orang asing yang berpapasan, entah itu hanya sebuah tawa dari orang-orang yang saya sayang, entah itu hanya kehangatan yang timbul dari kebersamaan, entah apapun, saya hanya ingin belajar mensyukurinya dengan jauh, jauh lebih banyak hari ini. Dan beruntunglah saya kalau bisa melakukannya untuk hari esok, esok, dan semua esok-esok lainnya.
Di 18 Agustus keenam belas saya, saya punya berjuta terimakasih, untuk semua sahabat terbaik atas doa indahnya pada saya hari ini. Sungguh, saya sungguh-sungguh berdoa pada Tuhan semoga doa-doa itu kembali pada pengirimnya, menjadi hal-hal yang di luar nalar kita yang bisa mempermudah segala urusan mereka, yang bisa membantu mereka dalam kesulitan, dan membawa kebaikan untuk mereka. Untuk yang telah bertahun-tahun rela untuk masih bertemu dan menyapa saya. Untuk siapapun yang rela berbagi senyum dengan saya. Untuk mereka yang mau mendengarkan keluhan tidak penting saya. Untuk mereka yang selalu memercayai saya. Dan untuk kalian yang selalu menjadi tempat saya pulang. Saya tidak tahu apa yang lebih baik selain mendapatkan orang seperti kalian dalam hidup saya.
Saya punya banyak mimpi yang ingin diraih. Saya yakin, kalian juga punya. Ayo kita belajar berlari sekarang, karena kita bukan lagi bayi yang baru belajar berjalan dan tertatih-tatih pelan mengambil mainannya di atas rak. Kita harus berlari sekencang-kencangnya, karena kita ingin mengambil “mainan” itu di atas langit tempat kita menggantungkan setiap mimpi baru. Saya ingin membantu mereka, orang-orang yang saya sayang, untuk meraih impian mereka, untuk bersama-sama merengkup harapan itu. Tapi kalau raga tak bisa membantu apapun, yakinlah, doa saya selalu bersama kalian.
Di 18 Agustus keenam belas saya, saya masih tidak tahu arti saya di dunia. Saya masih mencari-cari maksud Tuhan menciptakan saya, masih mencoba memahami fungsi saya di dunia. Saya masih memastikan bahwa saya bukanlah sekedar seonggok daging yang punya nama. Karena saya percaya, setiap manusia yang lahir ke bumi diciptakan Tuhan dengan suatu alasan.
Di 18 Agustus keenam belas saya, semoga saya menjadi orang yang lebih baik dalam hari-hari baik yang menanti di depan. Semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik di hari-hari baik yang menanti di depan.
Di luar, hujan sudah reda. Besok pagi saat matahari terbit, cahayanya akan menyinari embun di ujung dedaunan. Coba lihat embun itu esok pagi, bukti tengah malam ini hujan turun di langit saya.
Salam hangat,
Orang kece yang baru 16 tahun <3
Malam ini, di 18 Agustus keenam belas saya, Bogor diguyur hujan. Hujannya tidak lebat, tidak ada guntur, tidak ada petir ataupun angin kencang, tapi juga bukan hujan gerimis kecil-kecil. Hanya hujan. Dengan suara rintiknya yang akan menjadi lagu pengantar tidur terbaik. Karena itu, semoga di menit awal hari ini, kalian semua, siapapun dan dimanapun, akan tidur lebih nyenyak lewat suara rintik hujan malam ini.
Enam belas tahun yang lalu, di 18 agustus pertama saya, seorang ibu dan ayah yang paling saya cintai di jagat raya memperkenalkan saya pada dunia, memperdengarkan saya pada nyanyian hidup, dan memperlihatkan pada saya gunung tinggi dan lautan luas. Kala itu, saya tidak tahu harapan dan do’a apa yang ada dalam hati mereka. Saya tidak tahu apakah saya yang sekarang adalah segala hal yang terselip dalam do’a mereka terdahulu atau tidak. Saya tidak tahu apakah saya sekarang menjadi seperti yang mereka inginkan atau tidak. Tapi mereka selalu membiarkan saya untuk mencari jalan saya sendiri, mereka membiarkan saya untuk merajut mimpi saya, mengukir cita-cita saya, merangkai masa depan saya, dan merasakan krikil tajam dalam jalan saya. Dan sejak 18 Agustus pertama saya hingga detik ini, mereka selalu menjadi nomor satu untuk hampir semua daftar saya. Untuk orang yang saya sayang. Untuk orang yang saya ingin banggakan. Untuk orang yang tanpanya saya bingung hidup akan seperti apa.
Kalau kita harus punya satu hari untuk merenung, maka hari inilah yang saya pilih.
Ketika saya sadar bahwa di 18 Agustus keenam belas saya, saya masihlah perempuan remaja yang sering mengeluh, yang sering lupa dengan berjuta kebaikan dan kenikmatan yang saya punya, saya masih sering tidak bisa ikhlas dan berlapang dada, saya masih sering memprotes untuk skenario diluar kehendak saya. Maka, harapan kecil saya malam ini hanyalah agar Allah memberikan hati saya kelapangan yang lebih, memberikan hati saya damai yang lebih, menguatkan bahu dan kaki saya, menajamkan mata saya, memperhalus sifat saya untuk meninggalkan segala hal buruk dalam 16 tahun terakhir.
Karena itu saya ingin melihat segala hal lebih dekat hari ini, dan karena kita kadang sulit melakukannya setiap hari, maka untuk hari ini, saya ingin bisa mensyukuri segala hal yang mampu saya lihat, dengar, dan rasakan lebih dari biasanya. Entah itu sekedar sekeping senyum dari orang asing yang berpapasan, entah itu hanya sebuah tawa dari orang-orang yang saya sayang, entah itu hanya kehangatan yang timbul dari kebersamaan, entah apapun, saya hanya ingin belajar mensyukurinya dengan jauh, jauh lebih banyak hari ini. Dan beruntunglah saya kalau bisa melakukannya untuk hari esok, esok, dan semua esok-esok lainnya.
Di 18 Agustus keenam belas saya, saya punya berjuta terimakasih, untuk semua sahabat terbaik atas doa indahnya pada saya hari ini. Sungguh, saya sungguh-sungguh berdoa pada Tuhan semoga doa-doa itu kembali pada pengirimnya, menjadi hal-hal yang di luar nalar kita yang bisa mempermudah segala urusan mereka, yang bisa membantu mereka dalam kesulitan, dan membawa kebaikan untuk mereka. Untuk yang telah bertahun-tahun rela untuk masih bertemu dan menyapa saya. Untuk siapapun yang rela berbagi senyum dengan saya. Untuk mereka yang mau mendengarkan keluhan tidak penting saya. Untuk mereka yang selalu memercayai saya. Dan untuk kalian yang selalu menjadi tempat saya pulang. Saya tidak tahu apa yang lebih baik selain mendapatkan orang seperti kalian dalam hidup saya.
Saya punya banyak mimpi yang ingin diraih. Saya yakin, kalian juga punya. Ayo kita belajar berlari sekarang, karena kita bukan lagi bayi yang baru belajar berjalan dan tertatih-tatih pelan mengambil mainannya di atas rak. Kita harus berlari sekencang-kencangnya, karena kita ingin mengambil “mainan” itu di atas langit tempat kita menggantungkan setiap mimpi baru. Saya ingin membantu mereka, orang-orang yang saya sayang, untuk meraih impian mereka, untuk bersama-sama merengkup harapan itu. Tapi kalau raga tak bisa membantu apapun, yakinlah, doa saya selalu bersama kalian.
Di 18 Agustus keenam belas saya, saya masih tidak tahu arti saya di dunia. Saya masih mencari-cari maksud Tuhan menciptakan saya, masih mencoba memahami fungsi saya di dunia. Saya masih memastikan bahwa saya bukanlah sekedar seonggok daging yang punya nama. Karena saya percaya, setiap manusia yang lahir ke bumi diciptakan Tuhan dengan suatu alasan.
Di 18 Agustus keenam belas saya, semoga saya menjadi orang yang lebih baik dalam hari-hari baik yang menanti di depan. Semoga kita semua menjadi orang yang lebih baik di hari-hari baik yang menanti di depan.
Di luar, hujan sudah reda. Besok pagi saat matahari terbit, cahayanya akan menyinari embun di ujung dedaunan. Coba lihat embun itu esok pagi, bukti tengah malam ini hujan turun di langit saya.
Salam hangat,
Orang kece yang baru 16 tahun <3
Subscribe to:
Posts (Atom)