Tuesday, May 24, 2016

tentang niat,

Salah satu hal paling krusial ketika kamu berkecimpung dalam gerak sosial adalah menjaga niat. (Ya, sebenarnya dimanapun kamu memilih untuk mengabdikan potensi dirimu, niat adalah hal yang senantiasa diuji, sih)

Tapi dalam gerak sosial, ada tantangannya tersendiri. Karena, gak bisa dipungkiri, jaman sekarang (atau setidaknya dari fakta lapangan yang pernah aku hadapi) dunia sosial menjadi komoditi yang menggiurkan bagi pihak-pihak yang punya "kepentingan", sering digunakan sebagai "perwajahan lain" dari suatu tempat, ya katakanlah saja begitu. 

Gak ada yang salah, karena kita harus pandai bersiasat, katanya. Tapi mungkin bagiku dan beberapa orang, ada rasa ganjil saja di hati karena kami sejak awal tak pernah punya maksud apa-apa dibalik apa yang kami lakukan.

Dan memutuskan untuk tidak terlibat dalam lingkaran yang berkaitan dengan politik praktis, buatku seorang, adalah sebagai benteng pertahanan, sebagai pencegahan. Yaa meski mau gak mau, suka gak suka, kecipratan dikit pasti apalagi ranah mengabdi yang dipilih masih di sebuah lembaga pergerakan.

Maka, menjaga kelurusan niat dalam beramal ketika dihadapkan pada situasi seperti itu, jadi PR tersendiri

Itu pertama.

Kedua, keinginan dipandang baik adalah naluriah bagi seorang manusia. Karena, ya gak ada yang ingin dipandang buruk, kan?

Kadang dilematis, bagiku pribadi juga. Seringkali ingin berbagi cerita yang mungkin ada pembelajarannya bagi banyak orang, tapi gimana yaa caranya agar kerja-kerjaku nya gak perlu orang lain tau? Pada akhirnya cuma bisa menguatkan niat; bismillah, ini untuk "menginspirasi" bukan riya. 

Tapi ya gitu, kadang harus berhati-hati aja. Gak semua hal yang kita lakukan harus diceritakan atau diperlihatkan pada orang lain. Dan meskipun mengundang banyak perdebatan, (sekali lagi kuulangi tidak semua orang sepakat dengan ini dan mereka punya alasan yang kuat dan pasti baik) tapi aku setuju dengan orang-orang yang memilih "bermanfaat dalam diam", yang memilih membiarkan dua malaikat di pundak kita saja yang mencatatnya setiap waktu. 

Dan menurutku, cara terbaik menjaga niat adalah dengan semakin mendekatkan diri sama Allah. Juga mengingat-ingat, mungkin saja segala kemampuan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan adalah caranya Allah memberi kita kesempatan untuk menghapus dosa-dosa kita. Sehingga kita tak pernah boleh merasa lebih baik dari siapapun, yang kita lakukan ini cuma "nyicil menghapus dosa aja".

Kita juga harus senantiasa ingat dan meyakini, bahwasanya Allah adalah pemberi rejeki. Kita tak pernah punya kuasa dan kemampuan memberi apapaun pada siapapun. Kita hanya perantara. Jadi segala hal-hal baik (entah itu berupa materil dan non materil) yang kita lakukan pada orang lain, itu adalah kebaikan yang Allah perantarakan melalui kita. 
Kita, sekali lagi, hanya perantara. 

Sehingga bisa jadi (dan mungkin yang seringkali terjadi) bukan karena kita yang baik, tapi karena orang yang kita bantu/tolong teramat baik di mata Allah, Allah gerakan hati kita untuk menolongnya atau melakukan hal-hal baik padanya.

Pada akhirnya, niat dan penjagaannya adalah urusan kita denganNya, yang tidak akan diketahui siapapun juga. Iya, kita tak pernah tau apa yang hadir dalam hati manusia, kan?

Jadi,
selamat baik-baik menjaga niat! :)

Saturday, May 14, 2016

I will not ask you to love me this way
or that way.

I will not ask you to remember what my favorite color is or to give me flowers on valentine’s
I will not ask you to remember when and where we first met and what I was wearing at that time
I won’t even mind if you miss my birthday

You can, but you don’t have to

I will not ask you to love me this way
or that way.

Just love me the best way you know how
I mean, isn’t that what destiny all about?
When the best way you know how to love someone
is the same way I wish my entire life to be loved?



Surakarta, Mei 2016
[Efek terlalu dalam mempersiapkan presentasi bab 'cinta']