Friday, October 10, 2014

Kampanye Akbar; Sebuah Puncak Kaderisasi

Hari ini, ada kampanye akbar. 8 orang Kandidat Pengurus Harian menyampaikan visi-misinya di depan ratusan warga sekolah. Satu-dua kakak kelas, yang paling tua dan kadang paling merasa berkuasa mengajukan pertanyaan, kadang sedikit menekan, mendengus kecewa, atau tersenyum tipis sekali ketika puas dengan jawaban yang didapatkan.

Aku memilih untuk naik ke lantai 2, menyaksikan perhelatan tahunan ini dari atas sini. Apapun jawaban 8 adik-adikku itu, apapun pertanyaan yang akan mereka dapatkan, tekanan macam apapun yang akan dihadapi dari puluhan orang yang (sengaja) beraut muka tidak ramah itu, aku sudah percaya. Mendampingi mereka dalam proses regenerasi selama beberapa bulan terakhir, aku tahu mereka telah siap.

Dan lebih dari sekedar siap untuk menjalani hari ini, tapi siap mejalani amanah yang akan mereka emban setahun kedepan.

Hari ini mereka hanya butuh sedikit menunjukan, tempaan macam apa yang telah mereka jalani beberapa bulan ke belakang, nilai seperti apa yang telah kami coba tanamkan, dan cita-cita apa yang akan mereka bawa kedepan.

Langit tak perlu menjelaskan dirinya tinggi, people know you're good when you are good
Ujar salah satu KPH, disambut tepuk tangan meriah dari penonton. Aku hanya tersenyum dari atas, ya, dia salah satu yang terbaik. 

Pada akhirnya, proses kaderisasi panjang itu mencapai puncaknya hari ini, tidak berakhir disini tentunya, hanya saja satu fase telah selesai. Esok-esok kalian akan berjalan sendiri, kalian siap terbang mandiri dan kami sudah siap melepaskan.

Setelah ini, tidak ada lagi kumpul jam 6 pagi. Lari-lari keliling lapangan sambil bernyanyi-nyayi. Tidak ada lagi kepanasan, tidak ada lagi tugas-tugas berat, tidak ada lagi berdebat. Aku tidak tahu apa yang kalian rasa selama beberapa bulan terakhir, karena aku tahu cara kami mendidik kadang keras, kadang tega, kadang membuat kalian seringkali ingin berhenti. Tapi semoga, suatu hari kalian mengerti, tempaan seperti ini yang membuat kita semua menjadi lebih kuat dan lebih siap.

Aku kira aku akan jadi bagian dari kakak-kakakmu yang bersemangat bertanya di bawah sana, sebab aku lebih paham kelemahan kalian. Tapi pagi tadi, aku lihat kalian saling berangkulan, berdoa, satu-dua meneteskan air mata dan aku tahu segala kekurangan dan kelemahan kalian yang masih menyisakan ragu dalam hati ini akan teratasi dengan baik karena kalian memiliki satu sama lain. Maka aku memilih berdiri di atas sini.

Rasanya begini ternyata.

Tahun lalu, aku ada di barisan yang kepanasan itu. Menghadapi Aa dan Teteh galak yang banyak bertanya. Betapa waktu, sudah banyak berlalu. Dan tanpa disadari orang-orang silih berganti.






Titip rumah ya, dek. Titip rumah kami :)






Friday, September 19, 2014

Ada dua alasan ketika Ayah mendengkur
Pertama, flu berat di musim hujan
Kedua, hari yang luar biasa melelahkan

Dengkuran mahadahsyat Ayah bisa terdengar hingga ke kamar mertuanya
Tapi Ayah tak mau mengaku dirinya mendengkur

Sudah dua minggu teteh tidak bertemu Ayah
Karena Ayah mendadak menjadi manusia paling sibuk sejagad raya
Teteh kangen, Yah
Sedang dalam tahap yang butuh ditopang

Tapi,
Ayah sedang berjuang, ya?
Untuk teteh, untuk adik-adik juga.
Seperti yang selalu Ayah bilang, Ayah sedang ikhtiar.

Tapi tadi pagi, samar-samar terdengar dengkuran dari kamar Ayah
Hati teteh deg tiba-tiba
Ayah sudah lama tidak mendengkur
Bahkan tidak di musim hujan

Pulang pukul berapa malam kemarin, Yah?
Ketika teteh tidur pukul setengah satu, Ayah belum datang
Pukul dua ya, Yah?

Ayah sudah lama tidak mendengkur
Pasti belakangan hari Ayah melelahkan bukan main, ya?

Bahkan sekarang sudah pukul satu, Yah
Tapi jarak kita bahkan masih puluhan kilo meter
Cepat pulang, Yah
Biar cepat tidur

Besok pagi sepertinya Ayah akan mendengkur lagi, ya?
Tidur yang nyenyak, Yah
Istirahat yang cukup
Kalau Ayah mendengkur, bagian kecil di hati ini sedikit sakit, Yah

Ayah, maaf karena menjadi alasan di balik dengkuran itu
Terimakasih sudah mau berikhtiar untuk teteh dan adik-adik

Yah, teteh baru tahu
Ceramah Ayah yang hebat di kala sore tidak pernah membuat teteh menangis
Tapi,
Dengkuran Ayah pagi tadi ternyata bisa.

Cepat pulang, Yah
Biar cepat tidur.




Wednesday, September 10, 2014



Dan pada akhirnya kita semua harus berjalan ke arah yang berbeda, tidak tahu apa kelak akan bertemu lagi atau tidak, meski doa ketika kening menempel dengan sajadah tak pernah lepas, tapi kita semua sudah tahu, rencana Tuhan yang Mahabaik itu selalu jadi rahasia.

Monday, April 07, 2014

Lagi gak tahu diri. Padahal kerjaan numpuk, tapi malah kesini. Emang gak tau diri.

Akhir-akhir ini sering dapet quote lucu dari orang-orang sekitar

"Gak pengen balik lagi ke Smansa kan Az?" -Saghita, di kampus UI-

"Gua takut buka HP, apalagi kalau ada sms" -Maha, di tengah kemacetan SurKen-

"Ghit, jangan minum es, katanya gak enak badan"
"Biarin, Ghita mau sakit seminggu dirawat" -Saghita, di depan warung Mas Bejo-
Karena memang, sakit satu-satunya alasan yang bisa ditoleransi.

"Gue pengen sakit aja tau gak, seminggu tea gamasuk, jadi gak peduli hahaha" -Hanna, Koor. Humas, di Gg. Selot-

"Lieur, sirah liuer, kabeh lieur" -Tiffany, suka sok bule, Pimpinan Redaksi Bullet's-

Ya gitu mereka, sukanya bilang gak mau ke smansa, tapi dateng tiap hari jam set 6 pulang isya.

Bilangnya mau sakit aja biar gak usah masuk dan gak harus ngurusin ini-itu, tapi meski panas tinggi terbaring di rumah sakit, dikit-dikit telfon nanya progres.

Bilangnya gak mau peduli, tapi selalu jadi yang paling peduli.

Memang, orang-orang amanah yang mencintai apa yang dikerjakannya itu, gak ada duanya :)

Friday, March 28, 2014

Pertama kali kesini dengan mereka waktu kami masih kelas tujuh. Hari ini, empat tahun kemudian, kami datang lagi.
Saya gak tau gimana menggambarkannya.
It was just...




It was just a really beautiful day.

Monday, March 03, 2014


Saya tahu, saya begitu sering menyapa Tuhan kala saya benar-benar membutuhkannya.
Saya tahu, saya pernah benar-benar menangis di hadapanNya untuk apapun yang terjadi dalam hidup saya.
Ketika saya rasa saya mulai lelah untuk terus meminta,
ternyata saya diantarkan pada suatu titik yang tak pernah saya sangka bisa saya alami.
Sebuah titik yang memberikan saya berbagai pemahaman baru. Memberikan saya dunia yang tidak pernah saya sangka bisa saya miliki, bahkan meskipun saya pernah ada disana sebelumnya, saya baru merasa benar-benar hidup di titik ini.

Karena sekarang, ketika saya menyapu pandangan, yang saya lihat adalah orang-orang yang sedang berjuang. Mereka yang berjuang untuk apapun yang ingin mereka kejar. Mereka yang membuat saya tahu bahwa saya tidak pernah lelah sendirian, bahkan terkadang membuat saya malu untuk berkata lelah. Mereka yang selalu membuat saya bingung bagaimana mereka selalu mensyukuri apa yang mereka dapat, setidaknya mereka selalu berusaha untuk itu.

Saya ada pada suatu titik dimana saya bahkan hampir lupa apa itu definisi bersantai. Karena pada detik dimana saya ingin berleha-leha, orang-orang di sekitar saya berlari sangat kencang di samping saya, dan saya harus ikut berlari. Apa yang kami kejar di depan sana?
Awalnya saya tidak tahu. Bahkan mungkin sampai sekarang saya tidak pernah tahu secara spesifik.

Tapi saya dan mereka, kami hanya sedang mencoba berlari sekencang mungkin untuk meraih sebuah janji kebaikan, yang harus diraih dengan banyak pengorbanan. Karena hakikatnya mereka tak mengajarkan saya untuk mencoba meraih dan mendapatkan kebahagiaan, mereka mengajari saya untuk berjuang, untuk sama-sama berkorban dan berusaha meraih janji kebaikan itu dan pada akhirnya, kebahagiaan adalah kepastian yang mengiringi.

Saya sungguh pernah banyak mengeluh pada Tuhan, tapi saya pun kini sungguh bersyukur atas segala rencanaNya dengan menempatkan saya pada titik ini. Saya tahu jalan ini dan jalan selanjutnya tidak akan mudah, tapi seperti yang lalu, saya tahu semua ini berarti banyak untuk saya.

Perjuangan kita sungguh masih sangat muda. Masih panjang dan sungguh akan melelahkan jalan di depan sana. Tapi untuk tujuh bulan kebelakang kita sudah berjuang, dan tentu, tentu kita masih akan sanggup untuk terus berjuang.

Untuk keluarga-keluarga saya,
keluarga tempat pertama saya lahir, eASY.
keluarga tempat saya semakin tumbuh, OSIS.
keluarga tempat saya bisa selalu tertawa, Bullet's.
Semangat! Semangat! 

Sungguh titik ini adalah masa yang berat. Tapi saya ingin menepi sejenak untuk bilang bahwa saya tidak tahu apa rasa terimakasih saja cukup atas semua yang saya terima. Saya sungguh sayang kalian, keluarga saya.

Thursday, February 27, 2014

tentang datang dan pergi


"Ketakutan terbesar dari sebuah perpisahan adalah tidak adanya kesempatan untuk kembali dipertemukan"
Katanya, people come and go. Mereka yang datang adalah mereka yang akan pergi. Tapi aku juga percaya, mereka yang pergi adalah mereka yang akan datang lagi dan lagi. Dan setiap perpisahan, sekecil apapun, diperbolehkan untuk sedikit saja diiringi oleh mata yang berkaca-kaca.

Datang dan pergi adalah salah satu hal yang sulit kamu cegah kejadiannya, sebab katanya hidup adalah lingkaran besar tentang yang datang dan yang pergi. Pertemuan, perpisahan, perubahan, kepergian, persimpangan adalah kejadian yang akan terus mengelilingin lingkaran besar itu. Memastikan agar roda hidup tetap berjalan.

Setiap yang datang adalah setiap yang akan pergi, semuanya, manusia, waktu, kesempatan, kesedihan, bahagia, cinta, semuanya.

Setiap yang datang adalah setiap yang akan pergi mungkin perlu kamu ucapkan dan yakini berkali-kali agar perpisahan tidak akan menjadi fenomena yang mengejutkan. Agar kamu tahu, kamu tidak pernah punya hak milik atas (si)apapun, bahkan dirimu sendiri.


Monday, January 13, 2014

2 Minggu lalu tahun baru, atmosfirnya masih terasa hingga hari ini. Sudah cukup lama aku tidak pernah merayakan tahun baru. Koreksi, aku dan keluargaku.

Banyak orang merayakan tahun baru dengan suka cita, dengan perayaan, dengan bahagia. Tapi kami menyambut tahun baru dengan kehilangan, dengan ingatan bahwa siapa-siapa yang membersamaimu hari ini adalah siapa-siapa yang juga akan meninggalkan atau kamu tinggalkan.

Dulu, di 2011, tepat ketika suara petasan dan kembang api memenuhi langit, ketika suara terompet ada di mana mana, ketika orang-orang makan besar dan tertawa, di sudut rumah sakit kami saling memeluk dan menangis, mengantar kepergian bagian dari kami. Ketika semua orang mengawali hari pertama di tahun yang baru dengan penuh harap, kami melaluinya dengan mulai membenahi tempat yang kosong karena ditinggalkan.

Hari itu aku baru tahu, harapan dan kehilangan bisa berdampingan dalam waktu yang sama.

Sehingga sejak itu, aku tak pernah merasa layak untuk merayakan tahun baru. Ia hanya selalu jadi pengingat, atas yang pernah pergi dan yang akan pergi.

Aku juga bukan orang yang senang membuat resolusi, iya, anaknya suka kejutan akutu... hhee
hm, sebenarnya hanya karena aku percaya tidak pernah ada perubahan yang terjadi dalam dan karena satu momen besar. Setiap titik balik adalah buah dari perjalanan yang terdiri dari berbagai momen kecil. Kamu hari ini adalah kumpulan setiap momen kecil yang kamu kumpulkan sejak kemarin, yang pelan memahat dirimu yang sekarang. Maka, buatku lebih penting memastikan dalam momen-momen kecil itu, aku melakukan hal yang baik, yang bermanfaat.