Saturday, August 24, 2019

Aku besar sebagai seorang kakak, dari dua adik kandung, dari belasan adik sepupu, dari puluhan adik organisasi. Aku terbiasa mengalah, terbiasa mengurus, terbiasa mendahulukan yang lain, terbiasa berdiri tegak menjadi sandaran. Sehingga aku tidak pernah tau bagaimana rasanya punya kakak, sampai suatu hari kita dipertemukan. Mungkin pertemuan itu tidak membahagiakan bagimu, sebab ruang tempat kita berada adalah ruang yang pernah kamu benci dan ruang yang sangat tidak kamu ingini. Tapi begitulah, kita bertemu.

Aku tidak ingat bagaimana mulanya kita berteman. Tapi aku ingat dengan burjo tempat kamu duduk diam mendengarkan aku yang tidak berhenti bicara. Aku ingat malam-malam penuh kantuk di atas motor sepulang dari porsima, kita lelah tapi mau apalagi. Juga tentang setiap percakapan di bawah langit-langit kosku, dengan pendingin ruangan yang selalu tidak dingin bagimu. Banyak hal yang kita bicarakan, namun mungkin lebih banyak lagi yang kita pilih simpan sendiri. Kadang kita tidak sepakat akan banyak hal, tapi tidak apa-apa, kita toh tetap berteman.

Ah, aku juga ingat, dengan sore di bundaran ISI. Kita berteriak-teriak; marah, kesal, jengkel, sedih, frustasi, entah apalagi. Sampai semua orang melirik, heran dengan dua perempuan yang sedang ribut di ruang publik.

Waktu aku masih bisa bercerita semuanya, aku bicara tanpa henti, kamu sabar mendengarkan. Waktu aku tau ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan, aku cuma nangis aja, kamu juga tetap sabar duduk diam.

Eh, hahaha, kenapa momen yang aku ingat suram semua, ya?

Tapi begitulah, aku kemudian merasa punya kakak, yang siap mengengarkanku kapanpun, yang bisa memarahiku saat aku nakal, yang dihadapannya aku bisa mencukupkan diri untuk jadi kuat, jadi manja semanja-manjanya.
Manusia yang sekilas tampak keras dan galak itu ternyata bisa menjadi kakak dengan caranya yang tepat.
Meski aku yakin, punya adik macam aku bukan sebuah keberuntungan yang bagus, tapi semoga kamu tidak kapok, ya!

Kurang dari satu tahun kita berada di ruang yang sama, ternyata kita masih jadi teman makan meski masa kita itu telah usai. Dan dalam begitu singkat dan cepatnya waktu berjalan, ada banyak terimakasih untuk disampaikan. Tapi yang terbesar adalah terimakasih, karena walau aku tahu tidak mudah menjalani waktu-waktu itu, kamu tetap bertahan hingga hari ini, (meski sebenarnya, kamu punya banyak alasan untuk pergi). Terimakasih telah mau meruntuhkan dinding dirimu, kemudian mempersilakan aku masuk.

Maafku cuma untuk satu hal, maaf tidak bisa menghadiahkan jaket Levis yang kamu inginkan itu. Plis, aku bokek dan harus jajanin banyak orang, kamu tau sendiri lah posisiya :( hehe

Ohiya, jangan khawatir. Aku gak akan nakal lagi. Paling dikit-dikit doang. Tenang aku sudah besar, pasti bisa jaga diri.

Emm... mbak.. dunia ini memang akan tetap berjalan dengan atau tidak adanya kamu. Tapi dunia orang-orang yang pernah kamu singgahi dan marahin dan galakin, akan jadi sedikit berbeda (meski sebentar doang, abis itu mereka lupa, sih wkwk). Jadi, tetaplah hadir menjadi sosok yang berkesan bagi orang-orang baru yang kamu temui ya!

Aku sedih kamu gak di Solo lagi. Tapi suatu malam aku pernah bangun waktu kamu lagi tahajjud, lalu aku dengar doa yang kamu munajatkan; tentang inginmu kembali ke rumah. Aku aamiin-kan juga malam itu. Dan mungkin Allah kabulkan juga doa itu; hari ini kamu pulang ke rumah. Bisa jadi untuk sementara atau seterusnya, kita tak tahu bagaimana takdir tertuliskan.

Tapi yang manapun, aku yakin kita akan bertemu lagi. Mungkin di wisudamu, mungkin di wisudaku, mungkin di pernikahanmu, atau di pernikahanku, mungkin di Pontianak, mungkin di Solo, mungkin di Bogor, atau mungkin di waktu dan tempat lain yang tidak sempat terpikirkan sekarang. Tapi aku yakin, kita akan bertemu lagi.

Sampai waktu itu tiba, hiduplah dengan baik. Jangan sering marah-marah, banyak lihat video receh saja, biar kamu lebih sering tertawa. Makan yang sehat, minum air putih yang banyak, dan tidur yang benar. Aku tidak mau bertemu dengan orang sakit ketika kita bertemu lagi.

Semoga Allah menyayangimu, selalu!
Kamu terbaik!





Thursday, August 22, 2019

Aku tidak pernah tau bagaimana takdir menjawab semua doa dan harap ini pada akhirnya. Bagaimana ujung dari apa-apa yang mungkin ada sekarang. Tapi, itu bukan menjadi urusanku. Biarlah setiap rahasia takdir Tuhan yang tentukan bingkisannya. Urusanku adalah memohonkan ketetapan terbaik, lalu berprasangka baik apapun jawabannya.

Sedang dalam rentang waktu yang dijalani kini, aku akan mempersiapkan ketidakhadiranmu. Bersebab urusan melepaskan yang sedang aku usahakan. Setidaknya, sebelum penghujung tahun datang dan persimpangan itu kita temui lagi, aku harus bersiap diri. Aku tidak mau menjadi berantakan dan malah kerepotan membenahi hati. Aku tidak mau bersedih bersebab akhir yang aku sudah tau mungkin terjadi.

Karena itu, aku akan mundur perlahan. Biarlah semua aku beri titik disini. Biarlah bunyi kalimat selanjutnya, aku percayakan seutuhnya pada Sang Perencana Terbaik.

Biarlah sesak ini jadi ujian yang harus aku hadapi. Semoga aku lebih ikhlas dan lapang karenanya.

Tenang saja, biar semua ini jadi urusanku seorang diri. Suatu saat, aku pasti sembuh sendiri. 
.

Saturday, August 17, 2019

"Ya terserah. Nek gabisa dateng gapapa.
Biar temen-temenmu yang lain bekerja lebih keras lagi buat ini"

Mungkin, dari semua sakit yang pernah dirasa.
Nda ada yang sesakit ini.

Wednesday, August 07, 2019


jadi,
Allah kan gak nilai kita dari fisik kita
gak juga dari siapa orangtua kita
gak pula dari asal suku kita
asal negara, apalagi sekedar bahasa
atau bahkan juga gak dari latar belakaang jamaah kita

tapi
dari apa yang kita lakukan
dari bagaimana hati kita dalam menghamba dan cara-cara kita dalam mencintaiNya
sudahkah ikhlas, dan sudahkah dengan cara yang benar?

maka,
tersenyumlah
dan teruslah berjalan
sebab tugas kita cuma itu;
terus berjalan, seterjal apapun jalannya, sekoyak apapun rupa alasnya

tugas kita cuma berjalan,
menunjukan kepantangmenyerahan dan ketawakkalan atas apapun ketetapan
berjalan saja, biar Allah yang menilai, biar Allah yang mampukan