Aku tidak ingat bagaimana mulanya kita berteman. Tapi aku ingat dengan burjo tempat kamu duduk diam mendengarkan aku yang tidak berhenti bicara. Aku ingat malam-malam penuh kantuk di atas motor sepulang dari porsima, kita lelah tapi mau apalagi. Juga tentang setiap percakapan di bawah langit-langit kosku, dengan pendingin ruangan yang selalu tidak dingin bagimu. Banyak hal yang kita bicarakan, namun mungkin lebih banyak lagi yang kita pilih simpan sendiri. Kadang kita tidak sepakat akan banyak hal, tapi tidak apa-apa, kita toh tetap berteman.
Ah, aku juga ingat, dengan sore di bundaran ISI. Kita berteriak-teriak; marah, kesal, jengkel, sedih, frustasi, entah apalagi. Sampai semua orang melirik, heran dengan dua perempuan yang sedang ribut di ruang publik.
Waktu aku masih bisa bercerita semuanya, aku bicara tanpa henti, kamu sabar mendengarkan. Waktu aku tau ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan, aku cuma nangis aja, kamu juga tetap sabar duduk diam.
Eh, hahaha, kenapa momen yang aku ingat suram semua, ya?
Tapi begitulah, aku kemudian merasa punya kakak, yang siap mengengarkanku kapanpun, yang bisa memarahiku saat aku nakal, yang dihadapannya aku bisa mencukupkan diri untuk jadi kuat, jadi manja semanja-manjanya.
Manusia yang sekilas tampak keras dan galak itu ternyata bisa menjadi kakak dengan caranya yang tepat.
Meski aku yakin, punya adik macam aku bukan sebuah keberuntungan yang bagus, tapi semoga kamu tidak kapok, ya!
Kurang dari satu tahun kita berada di ruang yang sama, ternyata kita masih jadi teman makan meski masa kita itu telah usai. Dan dalam begitu singkat dan cepatnya waktu berjalan, ada banyak terimakasih untuk disampaikan. Tapi yang terbesar adalah terimakasih, karena walau aku tahu tidak mudah menjalani waktu-waktu itu, kamu tetap bertahan hingga hari ini, (meski sebenarnya, kamu punya banyak alasan untuk pergi). Terimakasih telah mau meruntuhkan dinding dirimu, kemudian mempersilakan aku masuk.
Maafku cuma untuk satu hal, maaf tidak bisa menghadiahkan jaket Levis yang kamu inginkan itu. Plis, aku bokek dan harus jajanin banyak orang, kamu tau sendiri lah posisiya :( hehe
Ohiya, jangan khawatir. Aku gak akan nakal lagi.
Emm... mbak.. dunia ini memang akan tetap berjalan dengan atau tidak adanya kamu. Tapi dunia orang-orang yang pernah kamu singgahi dan marahin dan galakin, akan jadi sedikit berbeda (meski sebentar doang, abis itu mereka lupa, sih wkwk). Jadi, tetaplah hadir menjadi sosok yang berkesan bagi orang-orang baru yang kamu temui ya!
Aku sedih kamu gak di Solo lagi. Tapi suatu malam aku pernah bangun waktu kamu lagi tahajjud, lalu aku dengar doa yang kamu munajatkan; tentang inginmu kembali ke rumah. Aku aamiin-kan juga malam itu. Dan mungkin Allah kabulkan juga doa itu; hari ini kamu pulang ke rumah. Bisa jadi untuk sementara atau seterusnya, kita tak tahu bagaimana takdir tertuliskan.
Tapi yang manapun, aku yakin kita akan bertemu lagi. Mungkin di wisudamu, mungkin di wisudaku, mungkin di pernikahanmu, atau di pernikahanku, mungkin di Pontianak, mungkin di Solo, mungkin di Bogor, atau mungkin di waktu dan tempat lain yang tidak sempat terpikirkan sekarang. Tapi aku yakin, kita akan bertemu lagi.
Sampai waktu itu tiba, hiduplah dengan baik. Jangan sering marah-marah, banyak lihat video receh saja, biar kamu lebih sering tertawa. Makan yang sehat, minum air putih yang banyak, dan tidur yang benar. Aku tidak mau bertemu dengan orang sakit ketika kita bertemu lagi.
Semoga Allah menyayangimu, selalu!
Kamu terbaik!
