Saturday, September 24, 2016



Saat keluar gerbang sore tadi, langit sedang luar biasa mendungnya. Aku -yang sudah bersiap mengeluarkan motor dan sudah berpakaian lengkap dengan masker+jaket+sarung tangan- tertegun sesaat memandang ke langit. Dalam hati sudah tahu, rencana sore ini harus batal karena akhir-akhir ini hujan Solo sedang tidak main-main, terlalu beresiko kalau ku tetap nekat naik motor dengan cuaca seperti ini. Untungnya, rencana sore ini tidak berhubungan dengan oranglain jadi ketika harus batal tidak ada yang dirugikan selain diri sendiri.

Akhirnya aku kembali ke kamar, berganti pakaian dan duduk di atas kasur menunggu hujan turun. Tak lama kemudian angin terasa masuk lewat jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar, lalu diiringi suara hujan.

Semenjak merantau, hujan --seperti juga banyak hal lain dalam hidupku-- memiliki definisi barunya masing-masing. Hujan jadi lebih sentimental dan ada nyes rasa melow di hati ketika hujan datang. Untungnya, disini hujan memang hanya datang di musimnya saja, tidak seperti di Bogor yang setiap hari harus ada payung di dalam tas karena kotanya suka sekali memberi kejutan hujan tiba-tiba. Karena itu, aku suka sekali menghindar ketika turun hujan. Meminjam bahasa Freud, kupakai berbagai defense mechanism ketika hujan biar aku gak baper. Kadang aku tidur, kadang  kupakai earphone dan dengerin musik kenceng-kenceng, kadang aku baca buku, atau kadang ngungsi ke kamar sebelah dan ngobrol dengan khusyuk.

Tapi, menghindar tidak pernah membuatmu lulus ujian. Pada suatu waktu ketika kamu merasa sudah cukup untuk menghindar, sudah saatnya belajar untuk menghadapi.
Tidak harus langsung lulus. Remedial berkali-kali tidak apa-apa, Tuhan tidak punya batasan seberapa kali kamu boleh ikut ujian ulang, kok.

Karena itu sore tadi kuhabiskan dengan duduk "menikmati" hujan.

Dan aku masih belum berdamai dengannya, masih belum lulus.

Tapi satu hal yang aku pahami hari ini;

Hingga saat ini, tak peduli dimana ku sekarang dan siapa-siapa yang membersamai,

Pulang masih  tentang sebuah perjalanan 591 km kereta
Rumah masih tentang Ayah, Ibu dan Adik-adik
Keluarga masih tentang orang-orang yang sama

dan hujan
masih tentang Bogor.

Berjarak telah membuatku me-redefinisi banyak hal. Memahami berbagai hal baru dan seperti yang sudah orang lain beratus-ratus kali katakan; membuat aku menghargai setiap perjumpaan.

Tapi berjarak juga ternyata menguatkan makna empat hal itu. Dan memang, apa-apa yang berharga dan memberikan arti, tak akan begitu saja mudah berubah.

Dan untuk hujan,
tak apa besok datang lagi. Aku siap di remedial.






Wednesday, September 21, 2016


Ikhlas itu gampang, yang susah ikhlas terus. Menerima itu gampang, yang susah menerima terus. Memahami itu gampang, yang susah memahami terus. Positif itu gampang, yang susah positif terus. Patuh itu gampang, yang susah patuh terus. Menjaga perasaan orang lain itu gampang, yang susah menjaga perasaan orang lain terus. Menulis itu gampang, yang susah menulis terus. Ngaji itu gampang, yang susah ngaji terus.

“Maka”, kata Imam Al-Ghazali, “tidak ada baiknya kebaikan yang tidak terus. Malahan, keburukan yang tidak terus, lebih baik daripada kebaikan yang tidak terus”

via tumblr