Monday, November 19, 2018

Kemarin, selepas zuhur, aku lajukan motor ke Karanganyar bersama seorang kawan untuk mengantarnya pulang. Di jalan kami banyak bicara tentang masa depan. Tak terasa, dunia kampus dan seisinya mungkin akan berakhir dalam waktu yang tidak lama lagi.

Setelah selesai mengantarnya sampai pintu rumah dengan sehat dan selamat, aku memilih kembali ke Solo melewati jalan yang lain. Kebetulan temanku tinggal tak jauh dari Desa Binaan yang selama 2 tahun terakhir ini jadi kesibukanku. Akhirnya aku belokan motor dan memilih pulang lewat desbinku (ah, desbinku), Plosorejo.

Langit sudah mendung sore itu, tapi aku memilih berkendara dengan pelan-pelan. Sesekali belok masuk ke gang-gang dan melihat pohon dukuh yang sebentar lagi akan memasuki musimnya.

Aku cuma berkeliling saja, sendirian. Menikmati hamparan sawah, menghirup udara dingin, sesekali menyambut senyum simpul simbah-simbah yang menghabiskan sore di teras rumahnya, juga sendirian. Ah, begitu kala usia sudah memakan raga, seringkali sendiri jadi teman satu-satunya karena anak-cucu sudah hidup masing-masing.

Lalu, aku mampir di Masjid Balai Desa, tak berapa lama, azan ashar berkumandang. Selesai 4 rakaat kutunaikan, aku berencana segera bergegas pulang. Ketika keluar masjid, aku melihat beberapa anak berlarian, sebagian lain pakai sepeda.

"Hoi Mbak!" Seorang anak menyapa.

Setelah ku lihat, ternyata mereka anak-anak yang suka ikut nimbrung ketika aku dan teman-teman sedang rapat disini.

Aku pun memilih duduk tak jauh dari tempat mereka bermain.

"Mbak ayo main 'Presiden Berkata' lagi!" U cap salah satunya.

Presiden Berkata, ternyata belum bosan juga mereka dengan permainan satu itu.

"Main sendiri lah.. kan udah aku ajarin to? Aku jadi juri aja"

Lalu mereka pun main sendiri. Tertawa. Berteriak. Sesekali saling pukul dan tendang. Kejar-kejaran. Teriak lagi. Tertawa lagi. Begitu terus.

Aku suka pemandangan itu. Selalu suka.

Di jalan pulang, yang entah mengapa terasa begitu lenggang dan panjang, suara tawa mereka masih begitu jelas di ingatan. Juga senyum simpul simbah-simbah yang sendirian di teras itu. Dan diikuti memori-memori lain di tempat ini beberapa tahun belakangan.

Tinggal sebentar lagi, segala rutinitas disini akan selesai. Akan ada wajah-wajah baru yang mungkin akan menggantikan, semoga mereka banyak belajar dari kurang dan salahku, biar jadi lebih keren. Semoga juga aku masih diijinkan untuk sesekali mampir, kalau-kalau rindu itu sudah kelewat kurang ajar untuk ditahan.

Aku engga pernah tau, melepas itu ternyata bisa bikin sedih juga. Dan gak tau kenapa juga, bisa terasa berat. Mungkin karena menyadari, masih banyak yang harus dikerjakan disini. Masih banyak 'hutang-hutang' yang harus dibayar. Masih banyak senyum-senyum yang ingin diciptakan.

Semoga pekerjaan-perkerjaan itu dirampungkan dengan baik, hutang-hutang itu dibayar dengan lunas, dan senyum-senyum itu selalu terkembang. Meski bukan aku yang akan melakukannya.

Aku kemudian mengangkat kepala melihat ke langit, lalu heran karena ternyata tidak hujan. Ah, ternyata aku menangis, ku kira pipiku basah karena air hujan. Lalu aku mengejek diriku sendiri; halah! dasar cengeng!

Saturday, November 17, 2018

Ini aku, yang sedang memberimu waktu dan kesempatan,
untuk berpikir lagi,
untuk mempertimbangkan lagi,
untuk bertanya pada dirimu sendiri satu kali lagi,

Aku sedang memberimu kesempatan pergi,
kesempatan melangkah mundur,
aku buka-kan pintu selebar-lebarnya.

Bila terbersit sedikit saja dalam kalbumu,
bahwa mungkin kamu akan pergi,
pergilah sekarang,
hilanglah sekarang,
karena sekarang adalah sebaik-baik waktu untuk kamu menyerah, untuk kamu meninggalkan.

Jangan pergi nanti, ketika pintu sudah aku kunci.
Jangan menyerah nanti, ketika aku sudah turut berjanji.
Karena bila kamu tetap memilih melangkah maju, disanalah aku juga telah memilih menemani perjalananmu.
Dan janji bagiku,
adalah tidak melangkah mundur, tidak lari,
tidak peduli apapun yang terjadi.

Jadi?

Wednesday, September 26, 2018

Sejak sebuah niat tercetus di pertengahan Juni lalu, aku tahu aku harus memiliki income tambahan selain dari uang jajan dari orangtua, fee ngelesin, dan olshop.

Namun, mengingat jadwal masih cukup padat, satu-satunya kemungkinan "job" yang bisa dikerjakan adalah nambah murid privat. Jam kerja yang selalu sore dan hanya 2 jam maksimal, cukup fleksibel dan tidak mengikat untuk bisa dilakukan sembari kuliah dan *ehm* ngebem.

Akhirnya, aku coba menghubungi beberapa "koordinator" les privat yang sudah cukup lama ku kenal. Setelah itu tugasku cuma menunggu panggilan job. Biasanya selama ini, setelah "minta anak" paling lama aku menunggu 1 minggu.

Bulan Juli berakhir, kemudian Agustus datang, kampusku disibukan dengan event tahunannya; PKKMB. Aku pun larut dalam persiapannya, sibuk dengan kertas dan lakban. Hari itu, ingat betul H-3 PKKMB salah satu teman menghubungiku;

"Ki, di tamcer mau ada les gratis buat anak kelas 6 dan 9, masih butuh relawan pengajar nih, join yuk?" Ucapnya lewat wa.

Sedang sibuk-sibuknya dengan tanggung jawab di kampus, kujawab waktu itu;

"Aku lagi riweh sama PKKMB, gak bisa memastikan sekarang. Takutnya malah gak amanah"

Chat itu pun berhenti sampai disana. Aku terlarut dengan serba serbi urusan kampus. Belum lagi, sampai kuliah sudah mulai berjalan belum ada juga "tambahan anak" yang kuminta bulan lalu.

"Belum ada yang daftar lagi, Ki. Biasanya sih harusnya udah banyak soalnya udah tahun ajaran baru" jawab Mbak Aish setiap ku tanya perkembangannya. Jawaban sama ku dapat juga dari 2 orang lainnya.

Hari Jum'at di minggu pertama kuliah, tepatnya di parkiran Porsima, aku bertemu dengan teman yang bulan lalu mengajak jadi relawan mengajar untuk kegiatan Les Gratis di Tamcer. Hari itu dia mengajukan tawarannya lagi.

"PKKMB udah beres toh? Kamu juga udah jarang ada kelas, kan? Ayolah! Investasi akherat"

Investasi akherat. Mengapa manusia suka sekali memggunakan frasa itu dalam urusan hitung-menghitung kebaikan dengan Tuhan. Ndak usah ajak Tuhan berhitung, ilmu matematika kita tidak akan sampai.

"Iya sih... Tapi itu full seminggu? Aku takut gak bisa komit" ujarku

Padahal dalam hati; nyari murid untuk les privat yang aku dibayar aja susah dan belum dapet-dapet, masa aku malah dapet untuk ngajar dan gak dibayar? Lucu sekali semesta ini.

Belum lagi khawatir, misal nanti dapat "tambahan anak" dan jadwalnya malah bentrok dengan jadwal ngajar di tamcer, gimana?

Kami pun berpisah dengan aku yang tak memberi jawaban pasti.

Malamnya ajakan itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Mikir-mikir. Nimbang-menimbang. Sok pusing padahal urusannya simpel banget (ya maapin, anaknya emang overthinking)

Akhirnya cuma mikir doang; kadang dalam hidup kita cuma dikasih dua pilihan, iya atau enggak.

Dan dalam pilihanku waktu itu,

'Iya' berarti aku mau turut serta membantu anak-anak yang kebetulan gak mampu bayar fee turor untuk persiapan ujian akhirnya.

'Engga' berarti aku menolak kesempatan membantu orang dengan alasan........gak tau alasannya apa.

Dan lalu, kenapa milih 'engga', kan?

Iya, hidup kadang sesimpel itu aja.

Akhirnya ku chat temanku;

'Oyy, ku jadi join deh, sini kontak CPnya, ku mau daftar'

Singkat cerita daftarlah aku, isi form, isi jadwal mengajar dan menceritakan pengalaman mengajar. Masuklah aku ke grup pengajar, saling kenalan, dan basa-basi ala-ala.

Tak lama berselang. Sungguh tak lama berselang. Sebuah chat masuk dari sesama relawan pengajar yang wajahnya saja belum aku tau;

"Azkia biasa ngelesin ipa mtk ya? Aku ada murid privat 2 org butuh tutor ipa mtk segera, berminat gk?"

Waw.
Masya Allah.
Langsung merindinglah aku.
Ingin menangis dipojokan.
Bukan, bukan karena dapet murid baru. Tapi karena sempet ragu buat ngambil kesempatan bantu, ragu buat berkata 'ya' karena takut pintu rejeki jadi terhalang (astagfirullah, Ki... Ki...)

Padahal yo ngajar anak-anak tamcernya aja belum, baru daftar doang, terus berasa Allah kasih pelajaran banget;

"Besok-besok jangan pernah takut berbuat baik karena khawatir kamu kekurangan ya, Ki"

Dan sampai aku menulis ini semenjak hari itu, aku malah sudah menolak beberapa job tutor.

Semudah itu aja kemudian, Allah bukakan pintu rejeki.

Jadi, kalo hari ini kamu masih bawa-bawa kalkulator untuk itung-itungan sama Allah, dibuang aja ya kalkulatornya. Nanti malu sendiri.

:)

Friday, August 24, 2018

ada jeda yang kita ukir sendiri
dan spasi yang kita ketik sendiri

sebab kita akan selalu berjarak,
bukan oleh ruang dan waktu,
tapi oleh batas,
dan tidak ada jarak yang lebih nyata daripada itu,
atau lebih kejam daripada itu, aku tidak tahu yang mana,

sialnya,
kita sama-sama paham akan batas,
sama-sama selalu melangkah mundur,
sama-sama mempersilakan pergi,

padahal kita mungkin cuma ingin berteman,
tidak lebih dari itu

sebab nyatanya bicara denganmu cukup menyenangkan

ya, terimakasih sudah membantu dengan lakban dan kresek hitam
juga angkut-angkut kertas di gelapnya stadion

hehe

Thursday, August 09, 2018

Di penghujung malam, kamu dan aku selalu tahu, masih ada pagi yang akan kembali menyapa dan hari untuk kembali dilalui.

Sesekali kamu dan aku menghela nafas dalam, menatapi esok yang akan segera hadir padahal lelah hari ini belum sepenuhnya beranjak pergi.

Tak apa, di bawah kuning lampu malam ini, aku melihat lekuk manis ujung bibirmu, juga sabit senyum di matamu, meski suaramu serak, kantung matamu hitam, wajahmu pucat, senyum penuh kesederhanaan itu membuatku percaya,
kamu lebih dari mampu menghadapi esok juga esok-esok setelahnya.

Kamu dan aku,
walau waktu kita hanya sepenggal malam,
semoga seterusnya bisa berbagi lelah seperti ini, hingga kita menua bersama,
menikmati secangkir teh di kursi kayu tua di teras rumah,
dengan langkah-langkah kaki kecil berlarian,
dengan suara-suara kecil bersahutan,
dengan mata-mata polos yang masih lugu memandang dunia

Kamu dan aku akan jadi tim yang hebat, dan lebih kepada karena aku banyak belajar darimu.

Ku harap kamu menemaniku membesarkan anak-anakku, cucu-cucumu,
Ku harap kamu menemani aku, hingga rambutku mulai tumbuh uban seperti sebagian rambutmu yang sudah tak lagi hitam,
temani aku terus ya, buk

Tuesday, August 07, 2018

tentang idealisme

"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki mahasiswa"

Tapi aku tu bingung,
Kalau ujian masih nyontek,
Kalau kuliah masih TA,
Kalau bikin tugas cuma copas dari temen,
Kalau bikin spj atau lpj masih manipulasi sana-sini,

Idealisme yang mana sih, yang sedang kita bicarakan?

tentang doa


Pernah berpikir gak, bahwa setelah sujud penuh simpuh kamu menghamba, setelah tengadah tanganmu setiap sepertiga malam, namun do'a mu tak kunjung Allah kabulkan itu mungkin karena kamu tidak baik dimataNya? 
Karena Ia tidak mencintaimu? 
Pernah berpikir seperti itu?

Bila pernah, coba ingat lagi kisah Nuh yang berdoa selama 950 tahun tapi orang terdekatnya tetap tidak beriman. Kisah Muhammad yang berdoa bagi pamannya, tapi tetap melawannya hingga akhir. Kisah Yaqub yang berdoa sambil menangis hingga hilang penglihatannya atas kerinduan terhadap putranya Yusuf. 
Dan apakah mereka bukan orang-orang yang begitu mulia dan begitu Allah cintai?
Maka doa-mu tak pernah jadi sebab akan pemberian Allah. 
Berdoa adalah perbincangan akrabmu dengaNya. Wujud penghambaan bahwa kita, manusia, adalah tidak berdaya. 

Dikabulkan atau tidak, bukan itu poinnya. Terus berdoa apapun kondisinya, itu intinya.
Maka dicintai atau tidak kita oleh Allah bukan atas dikabulkan atau tidaknya doa dan pinta kita. Dicintai atau tidaknya kita oleh Allah adalah ketika lisan dan hati kita masih tergerakan dan Allah perkenankan untuk selalu berdoa.

Wallahu a'lam

Monday, July 30, 2018

[Cinta Pertama]

Kuperkenalkan kamu pada cinta pertamaku.

Dengannya, aku menghabiskan sisa hari berbincang bersama tentang banyak hal. Aku tak takut mengungkapkan apapun karena dia telah menerimaku untuk aku yang apa adanya.

Dia cinta pertamaku,
yang dari teduh matanya membuatku begitu percaya, di dunia yang terkadang tak ramah ini, ada yang berjuang melindungiku dengan sebegitu besarnya.

Dia cinta pertamaku,
yang dalam nada khawatirnya, dalam ungkapan kasih penuh canggungnya, ku temukan makna cinta yang sesungguhnya.

Kasih sayangnya menumbuhkan, tak mengekang dan memiliki,
ia melepaskan,
membiarkanku terbang dalam cakrawalaku sendiri,
sembari terus setia menjadi tempatku pulang, kapanpun.

Dia cinta pertamaku,
yang dalam ketidaksempurnaannya, dalam kurangnya, memahamkanku bahwa pada akhirnya, cinta terbaik adalah tentang mengusahakan bukan kesempurnaan.

Dia cinta pertamaku,
yang restu dan ridhanya kutempatkan diatas rasa ataupun keinginan.

Dia cinta pertamaku,
yang peluh keringatnya berjuang,
lelah raganya bekerja,
tulus hatinya mengasihi
kerut ujung-ujung matanya,
telah membuatku terus menjaga diri dan hati dari segala yang tidak boleh aku tembus,
berusaha agar tak pernah ada yang akan ku persilakan masuk tanpa membawa restunya ketika mengetuk pintu hatiku
demi menjaga kehormatannya, menjaga martabatnya, menjaga perasaannya,
agar hatinya selalu tenang mengetahui, anak perempuannya baik-baik saja disini.

Dia, tetap dan akan selalu jadi cinta pertamaku.

Selamat ulang tahun, Ayah! :)

Wednesday, July 11, 2018

Cinta dan Pilihan



Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah nasihat baik, yang kemudian kutulis dan kutempel di dinding kamar;

"Cinta kita kepada Allah akan terlihat dari pilihan-pilihan yang kita ambil"

Sebuah nasihat yang cukup membuat tertegun dan menyadari, bahwa dari semua kelumit pikiran, kebimbangan hati, keraguan yang menyelimuti atas setiap pilihan-pilihan hidup, ada satu prinsip mendasar yang selalu bisa dijadikan landasan memutuskan; cinta kita kepada Allah.

Nasihat itu kemudian membuat beberapa pertanyaan muncul, apakah pilihan-pilihan kita kemarin, pilihan-pilihan kita hari ini, pun pilihan-pilihan kita esok, adalah pilihan yang kita buat atas besarnya cinta kita kepada Allah? Pilihan yang kita buat dengan orientasi semata-mata hanya pada Allah?

Tentunya, jika kita benar menghamba, Allah menjadi alasan pertama kita memilih. Bukan yang terbaik menurut kita, tapi yang terbaik menurut Allah. Bukan karena cinta pada manusia, tapi karena cinta pada Allah.

Untuk siapapun yang sedang menghadapi pilihan-pilihan, semoga besarnya rasa cinta kepada Allah, mengantarmu memilih pilihan-pilihan yang Allah ridha atasnya :))

Sunday, July 01, 2018

Ada satu kejadian ketika aku sedang bermain dengan anak-anak di Plosorejo kemarin. Diantara sekitar 15-an anak yang ikut bermain, ada satu anak yang dikucilkan, diledek, dan dibully oleh teman-teman lainnya.

Tentu yang membuat menarik bukan perkara ada praktek bullying disana, karena ku yakin hal itu bukan hal aneh baik di lingkup anak-anak ataupun dewasa, baik di dunia nyata maupun maya.

Yang membuatku tersadar akan suatu hal adalah ketika aku melihat nenek dari anak tersebut (yang ku taksir usianya diatas 80 tahun) datang memarahi dan mengejar anak-anak lain yang membully cucunya, tidak sampai disitu, nenek itu membawa batu yang kemudian dilempari pada anak-anak.

Berbahaya? Tentu. Kalau batu itu sampai melukai, urusan bisa panjang. Dan apa kalian merasa tindakan nenek itu berlebihan sebab yang dihadapi anak-anak? Iya aku juga merasa begitu.

Tapi poin-nya bukan disitu.

Poinnya adalah kadang kita lupa, setiap manusia yang kita hina, yang kita "bully",yang kita cela,

mereka adalah manusia yang punya orang-orang yang begitu mencintai mereka,
yang membesarkan mereka dengan penuh perjuangan dan penuh kasih sayang
yang peluh keringatnya, lelah raganya ditujukan untuk berjuang demi mereka,
orang-orang yang tak pernah luput bersimpuh di atas sajadah merapalkan doa-doa baik untuk mereka

Kita kadang lupa, mereka sangat berharga bagi keluarganya, bagi bapak-ibuknya, bagi orang-orang yang mencintainya.

Maka bayangkan, perihnya hati mereka bila mereka tau segala kata sampah yang pernah kita sematkan pada orang yang dicintainya. Marahnya hati mereka bila mereka tau segala perlakuan buruk kita padanya

Atau bayangkan saja, hancurnya hati ibuk-bapakmu sendiri, yang cium dan peluk penuh ragunya itu masih mengantarmu hingga depan pintu sebelum kamu pergi, bila kamu disakiti, dihina, diolok-olok oleh oranglain.

Sehingga ketika kamu menghinanya, melukainya, membullynya hingga sakit hatinya, kamu tidak hanya telah zalim kepadanya, kamu juga zalim kepada seluruh yang mencintainya.


Wednesday, June 20, 2018

Banyak hal dalam hidup ini yang bukan merupakan perkara yang selesai ketika dikerjakan.

Dari hal besar, misalnya berbakti pada orangtua, bermanfaat bagi sesama, sabar, ikhlas juga syukur. Sampai yang sederhana, misalnya mencuci baju, ngurus anak (kalau udah punya), bersih-bersih kamar.

Semuanya berlangsung nyaris terus-menerus. Hari ini sudah berbuat baik pada orangtua, besok masih harus tetap berbakti. Hari ini udah banyak bantu orang, berbuat baik, besok harus lebih ditingkatkan lagi. Hari ini sudah sabar, ikhlas, bersyukur, besok akan datang lagi hal-hal yang membuat harus lebih banyak sabar, ikhlas, dan bersyukur. Hari ini sudah nyuci, besok ya nyuci lagi. Begitu seterusnya.

Sehingga, kalau kita bertahan hanya untuk selesai, kita hanya akan dapat lelah.

Dan disanalah timbul seni melibatkan hati. Untuk senantiasa tulus mengerjakan setiap amalan. Untuk selalu ingat semakin lelah (mudah-mudahan) semakin tinggi pahalanya, semakin lelah (mudah-mudahan) semakin besar manfaatnya. Lebih baik lagi kalau dihatimu ada Allah, ya lelahnya gak terasa, lelahnya lelah bahagia gimana gitu.

Bismillah ya, semoga selalu Allah mampukan aku, juga kamu :)

Thursday, May 24, 2018

sedikit soal rejeki,

Menjadi sedikit tertarik membahas rejeki setelah kemarin menyimak perdebatan sengit antara beberapa kawan tentang; perlu gak sih kita jadi orang kaya di hidup ini? Or at least, perlu gak sih kita berorientasi ke arah sana?

Setelah perdebatan itu, yang kemudian tetap menghasilkan dua poros pendapat yang berbeda, setidaknya aku mengambil satu kesimpulan kecil; bahwa pandangan seseorang soal masalah finansial dalam kehidupannya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh latar belakang keadaan ekonomi dan yang lebih penting, dalam value seperti apa ia dibesarkan berkaitan dengan rejeki.

Aku sendiri berasal dari keluarga yang berkecukupan. Kata cukup aku rasa adalah kata yang paling tepat menggambarkan karena sejauh ini keluargaku bukan keluarga yang serba berada dan berlebih dalam rejeki. Cukup dalam arti, rejeki yang Allah beri melalui Ibuk dan Ayah cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, cukup untuk membiayai sekolah, cukup untuk membayar zakat, berobat dsb. Cukup dalam arti tetap harus nabung dan ngirit pengeluaran untuk memenuhi pembiayaan skala besar di masa depan. Cukup, bukan berlebih, bukan --meminjam bahasa anak sekarang-- tumpeh-tumpeh. 

Sedangkan untuk value, Ayah-Ibuk memberikan pengaruh yang cukup penting dalam bagaimana aku memandang rejeki. Salah satu hal yang kemudian paling tertanam adalah bahwa gaya hidup itu pilihan. Terlepas dari apakah rejeki hari ini lebih dari rejeki kemarin ataupun sebaliknya. 

Sekian puluh tahun berkarir sebagai konsultan, tentu perjalanan karir ayah ada naiknya, ada turunnya, ada berkembangnya. Begitu pun dengan Ibuk, profesi guru kini tidak berhenti pada ranah fungsional saja tapi merambah pada ranah struktural juga yang kemudian menghasilkan sebuah jenjang karir. 

Tapi, entah Ibuk dan Ayah mendapat amanah yang lebih tinggi atau tidak, entah rejeki sekarang jauh lebih baik dari rejeki kemarin atau tidak, kehidupan keseharian kami begini-begini saja dari dulu.

uang jajan aku dan adik-adikku tetap tidak akan naik kalau tarif angkutan umum tidak naik,
makanan sehari-hari di rumah tidak jauh dari sayur, tempe-tahu, sambal, ikan asin, ayam sesekali,
Ayah sampai hari ini masih setia mengantar Ibuk setiap pagi ke sekolah dengan motor supra-nya, yang dibeli seken, yang kadang gak kuat di tanjakan itu.
Aku masih dilarang pulang naik pesawat kalau gak dalam keadaan mendesak dan mepet, terlalu mewah buat mahasiswa, kata Ayah selalu. Mentok-mentok kereta kelas bisnis, itu pun kalau IP sedang bagus.
Dan banyak hal lainnya.

Tidak berhenti disitu saja, Ayah juga selalu memastikan anak-anaknya hidup prihatin. Iya, kalau orangtua lain ingin sekali anak-anaknya hidup nyaman dan enak, berbeda dengan Ayah. Bagi beliau lebih penting mengajari anak-anaknya hidup prihatin dibanding hidup serba nyaman, apalagi berlebih.

Maka kemudian anak-anaknya belajar bahwa, segala "tambahan" kenyamanan yang didapat dalam hidup adalah harus hasil usaha sendiri. Sehingga aku dan adik-adikku tidak pernah meminta lebih dari apa yang diberikan kepada kami. Kalau ada lebih ya ditabung, kalau kurang ya cari pintu rejeki lain. Karena itu, aku menjadi guru les privat, kadang freelance juga, ya buka olshop juga. Pernah ditanya, memang uang jajan dari orangtuamu gak cukup, Ki? Cukup, lebih dari cukup. Tapi ada beberapa kebaikan yang bisa dilakukan dengan adanya penghasilan tambahan, dan yasudah itu aja motivasinya.

Kesederhanaan bagi kamu dan aku mungkin tidak berdefinisi sama, tapi orangtuaku mengajariku bahwa sederhana adalah tentang bagaimana kamu tetap memilih untuk hidup secukupnya walau keadaan memungkinkan kamu untuk hidup dengan lebih mewah.

Karena sekali lagi, gaya hidup itu soal pilihan. Sedangkan rejeki, di sisi lain, adalah hal yang wajib diikhtiarkan semaksimal mungkin.

Maka, kembali pada awal mula cerita panjang ini dibuat, perlu gak sih kita menjadi kaya atau berorientasi ingin jadi kaya dalam hidup ini? Secara pribadi, aku berpendapat tidak perlu. 

Tidak perlu dalam arti, menjadikan status kaya itu sebagai tujuan akhir, sebagai cita-cita. Menjadi kaya itu tidak wajib, mencari nafkah yang wajib. Sebab rejeki, seperti takdir dan/atau nasib lainnya adalah sepenuhnya kuasa Allah, hak prerogratifNya, yang tidak melarang adanya usaha, yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi kita untik berikhtiar dengan sekuat-kuatnya dan sebesar-besarnya.

Karena tentang harta ada yang lebih penting dari urusan harus/tidaknya kita jadi kaya, yaitu keistiqomahan untuk senantiasa bermuamalah secara islam.

Prinsip itu lagi-lagi kudapatkan dari orangtua, ketika melihat Ibuk dalam menjalani pekerjaannya. Pernah suatu hari Ibuk melepaskan sebuah jabatan, mengundurkan diri karena sebuah sistem yang tidak sesuai dengan prinsipnya soal kejujuran. Sistem yang telah melukai integritasnya sebagai seorang pendidik dan hati nuraninya sebagai seorang manusia. Keputusan itu tentu saja berdampak pada "turunnya" kedudukan struktural, penurunan penghasilan, dan terputusnya kesempatan untuk mendapat jenjang karir yang lebih tinggi. Tapi toh, semua itu tak pernah jadi tujuan Ibuk mengabdikan potensi dirinya selama ini. Jabatan hilang, kedudukan turun, penghasilan menurun, tapi Ibuk tetap menjalani profesinya yang sederhana dengan bersahaja.

Dan terlebih, keputusan itu menjadi teladan besar bagi kami anak-anaknya, memberi kami nilai yang berharga tentang bagaimana menjaga 'kelurusan' dalam bekerja. 

Tentu saja Islam tidak melarang manusia untuk menjadi kaya. Sejarah mencatat beberapa sahabat Nabi memiliki kekayaan yang berlimpah, yang kemudian digunakan sebagai alat untuk beradakwah. Dalam hal ini, maka harta menjadi alat, hukum cara/alat/wasilah itu mengikuti hukum tujuan. Dan memang, ada beberapa kebaikan yang bisa dilakukan dengan adanya kelapangan rejeki.

Jadi yaa... Berikhtiarlah saja dengan sebaik-baiknya. Dan setelah itu tinggal bertawakkal.

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)

Allah cukupkan keperluannya. Ketika Allah beri kelimpahan rejeki, maka memang sebegitu keperluannya, pun sebaliknya. Allah cukupkan, tidak kekurangan, dicukupkan.

Jadi, aku memang ingin hidup cukup saja. Cukup untuk diri sendiri, cukup untuk keluarga, cukup untuk sedekah, cukup untuk qurban, cukup untuk beribadah.

Kenapa toh gak merasa perlu menjadikan kaya itu sebagai cita-cita, sebagai tujuan? Selain karena percaya bahwa jumlah rejeki masing-masing kita udah ada yang ngatur, alasannya sesederhana karena bagiku sempit sekali ketika tujuan hidup cuma kaya, materil saja.  Ada perbedaan yang bisa dirasakan ketika orientasi itu perlahan kita ubah. 

Ketika kita sedang ikhtiar menjemput rejeki, kalau orientasinya ingin kaya, ya stress lah setiap hari lihat rekening tabungan gak nambah-nambah, atau dompet yang tipis, gak bisa beli ini beli itu. Tapi ketika orientasinya menjemput rejeki itu untuk ibadah, ketika fokusnya ada pada esensi rejekinya, ketika yang dipikirkan bukan berapa yang didapat tapi bagaimana mendapatnya, maka yaa... hari ini rejekinya segini akan sama bersyukurnya ketika rejeki besok lebih ataupun kurang. Hari ini uang di rekening tabungan sangat minim pun tetap bersyukur karena nabung gak selalu di bank, nabung bisa di bapak parkir, bisa di adek-adek pinggir jalan, bisa di saudara sendiri, bisa di kawan, bisa di mana-mana. Kan kalau sedang butuh sekali, hal yang harus dilakukan dalam mengiringi proses menjemput rejekinya adalah nabung, nabung lewat sedekah. 

Ketika aku bilang seperti ini, pasti ada yang bergumam dalam hati bahwa prinsip itu utopis sekali, teori sekali. Mudah aja ki kamu ngomong gitu, hidupmu gak pernah susah, gak pernah susah makan, susah sekolah kan?

Pertama, aku setuju bahwa kemiskinan itu tidak bisa disimulasikan. Sebesar-besarnya empati kita pada keadaan orang lain, kita tetap punya keterbatasan dalam memahami kondisi orang lain ketika kita tidak sebenar-benarnya berada dalam kondisi itu.

Kedua, semua prinsip itu lahir dari nilai yang tumbuh dari orangtua, dan orangtuaku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh keterbatasan. Mau sekolah mikir berkali-kali, bahkan mau makan juga mikir berkali-kali. Keduanya, bersama dengan kedua orangtua mereka, berjuang mati-matian untuk masuk sekolah, dan lebih mati-matian lagi untuk bertahan hingga selesai. Dan keadaan seperti itu yang melahirkan nilai yang mereka berdua tanamkan pada kami hari ini.

Pernah memahami rasanya kehidupan yang sulit nyatanya tidak lantas membuat keinginan hidup seba ini-itu jadi cita-cita.

Ketiga, ya se-utopisnya prinsip-prinsip itu, aku juga gak akan berani ngomong ketika aku tidak merasakannya langsung di hidupku :)

Terlebih, aku juga sangat menyepakati bahwa rejeki itu gak hanya tentang harta. Kesehatan, lingkungan yang baik, kesempatan belajar, teman-teman yang baik, orang-orang yang sayang sama kita, dsb itu juga rejeki. Karena memang hasil dari ikhtiar menjemput rejeki itu gak melulu linear, sebab, hm, bahkan poin berikhtiar itu toh bukan tentang hasilnya, kan?

Dan yang jelas, Allah telah mengatur rejeki kita dengan sedemikian presisi, kita gak perlu khawatir, cukup berjuang dan percaya.

"Laa yukallifu allahu nafsan illaa wus'ahaa" 
Allah tidak membebani seorang hamba melebihi kemampuannya.

"Inna ma'al 'usri yusroo"
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan

Allah beri kita kesulitan karena disaat yang sama Allah beri kemudahan di sisi lain yang memampukan kita menghadapi kesulitan itu, kan? Allah kasih rejeki dosen yang sulit karena Allah tau Allah kasih rejeki teman-teman yang baik dan sangat peduli (oke ini curhat). Allah tidak melebihkan kamu dalam harta, Allah lebihkan kamu dalam kesempatan, mudahkan dalam kamu mendapat pencerahan.

Rejeki kita, telah diatur sepresisi itu. Tinggal kita jemput sampai batas optimalnya.

Jadi yaa... begitu sedikit opini tentang rejeki. Mungkin jauh berbeda dari berbagai teori finansial, savings, investasi dll tapi yaa.. berbeda gak apa-apa kan?

Dan terakhir, teruntuk aku, juga kamu, semangat menjemput (keberkahan) rejeki! :)

Wednesday, May 02, 2018

tentang aksi


Ikut aksi atau tidak?

Ah, lagi-lagi bahasan itu selalu jadi hangat setiap kali sebuah agenda turun ke jalan dilakukan, dari dulu sampai sekarang masih saja berlari-lari di putaran perdebatan yang sama.

Bagiku, kamu akan ikut aksi atau tidak itu murni terserah padamu. Aku bahkan tidak akan bilang bahwa kami yang turun ke jalan adalah lebih baik, lebih berbuat konktrit daripada kamu yang tidak. Siapa aku yang bisa menilai demikian? Siapa aku untuk menilai apa-apa yang ada dalam hati manusia? Siapa aku untuk seolah paling tahu apa yang sudah masing-masing kita perbuat?

Pada akhirnya aku percaya, kita punya jalan masing-masing. Jalan yang kita pilih atas dasar kemana hati kita terpanggil. Jalan yang sama-sama memperjuangkan kebaikan. Meski berbeda caranya, meski berbeda bentuk kerja-kerjanya.
Yang menjadi penting kemudian adalah ketika memang kita tidak bisa membantu dalam jalan yang sama, setidaknya kita tak saling menghalangi jalan juang masing-masing. Kita tak saling menghalangi usaha-usaha kebaikan yang kita lakukan meski kita ada pada ranah yang berbeda.

Kalau berperang di medan perang dan berbakti pada orangtua adalah sama-sama jihad di mata Allah kenapa kita harus mempermasalahkan beberapa yang Allah mampukan untuk berperang dan yang lainnya Allah mampukan untuk merawat orangtua yang sedang sakit? 

Kalau turun berorasi di panasnya aspal jalanan dan duduk di kelas menjadi pembelajar yang teramat baik sama-sama kita lakukan untuk terciptanya keadaan yang lebih baik, mengapa kita mempermasalahkan perbedaan itu?

Ketika kita meneriakan keberpihakan, bukan berarti kita bebas memberikan penilaian kepada oranglain. Apalagi menuduh bahwa mereka yang tidak berdesakan di jalan, tidak gosong diterpa panasnya matahari adalah mereka yang tidak berpihak pada keadilan yang sama, pada kebaikan yang sama.

Karena sekali lagi, siapakah kita menilai apa-apa yang tidak bisa kita lihat, yang tersimpan dalam dada manusia? Biarlah segala rahasia Allah yang tentukan bingkisannya :)

Toh besok-besok ketika kita skip kuliah untuk membela adik-adik yang kena UKT mahal kita tetap butuh meminjam catatan teman ketika mau UAS, kan?

Jadi, mari banyak-banyak berdoa semoga ketika disini kita berjuang dengan cara ini, diberbagai sudut lain di bumi oranglain juga sedang berjuang lewat jalan masing-masing, lewat jalur masing-masing karena kita tidak mungkin melakukan semuanya oleh kita sendiri.

Dan terakhir, semoga apapun jalan yang kita pilih, Allah senantiasa jaga hati kita, jaga niat kita, karena hanya Dia yang mengetahui segala yang tersimpan dalam hati manusia.

Semangat! :)


Sunday, March 18, 2018

tentang marah

Seorang teman di kampus bertanya beberapa hari yang lalu:

"Mbak, pernah sakit hati gak sama perkataan orang lain? Kalau pernah ngatasinnya gimana?"

Words can hurt people. I learned that the hard way.

Beberapa pengalaman paling hebat dan personal dalam hidup mengajarkanku bahwa kata-kata bisa menyakiti orang lain (dengan sangat dalam), sehingga salah satu hal yang berubah padaku adalah sekarang aku mati-matian menjaga kata-kata (padahal dulu aku orangnya sangat blak-blakan), sesederhana karena aku tau rasanya, dan gak mau orang lain merasakannya juga. Jadi kalau ditanya pernah, iya pernah. Tapi itu juga yang membuat pertahananku semakin baik sih, pada akhirnya aku bisa mem-filter sendiri mana yang harus dimasukin hati dan tidak, pada akhirnya hanya yang benar-benar fundamental dan esensial yang “mengganggu”, semisal cuma bercandaan atau bully-an mah aku anggap itu bentuk kasih sayang aja wkwk

Apa yang dilakuin? Hmm..  aku gak bisa marah depan orang. I mean ketika aku really meant it, ketika marah beneran aku cenderung diem. Aku suka ngomel-ngomel (hm, perempuan) tapi kalau aku sungguhan marah, sungguhan sakit hati, sungguhan sedih, aku malah gak bisa bilang.  Lebih sering menjauhi dulu, jaga jarak dulu. Jadi kalau sakit hati sama orang juga aku gak ngapa-ngapain, paling nangis sendiri. Bahkan cerita ke orang aja biasanya enggak wkwk.

Prinsipku yang jelas, aku gak mau marah sekedar untuk melampiaskan emosi. Banyak cara katarsis yang tidak menyakiti oranglain. Kalau aku memilih untuk marah langsung sama orangnya, aku harus memastikan marahku itu ada tujuannya, dan tujuannya baik. Misalnya, memastikan bahwa orang tersebut tahu bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan agar mencegahnya melakukan hal yang sama pada oranglain. Memberitahu bahwa sikapnya sudah melampaui batas. Meski, jarang sekali melakukannya, karena seringnya, orang tahu kok dia salah, dia kelewatan. Jadi lebih sering diem aja.

Tapi karena aku tahu memendam luka itu tidak baik, maka aku lebih memilih maafkan saja. Dalam arti yang sebenar-benarnya (yang berarti setelahnya, kita tak lagi punya hak untuk mengungkit-ungkitnya atau bersedih atasnya). Semisal pun kamu tidak pernah dimintai maafnya, maafkan saja. Lalu berjalan kembali dengan senyum paling kerenmu karena dalam hatimu kamu sudah selesai dengan urusan itu.

Tuesday, February 06, 2018

tentang bahagia



Kita sibuk bertanya, mencari, mengejar tentang bahagia.
Padahal, bahagia tetap dan akan selalu sederhana.

Ia tersebar pada sudut-sudut kecil yang luput kita lihat karena berpikir bahwa bahagia selalu sama dengan gemilang.

Padahal bahagia sesederhana ujung senyum dari orang-orang yang disayang,
sesederhana omelan Ibuk ketika kita sakit "Dibilangin jangan minum es, gak nurut kan" yang dikatakan sembari sibuk membawakan makanan, obat, kompresan, dan berakhir dengan menyelimuti.
Sesederhana ketukan Ayah di pintu kamar di tengah malam mengajak beli nasi goreng amang keliling dan berbisik "Dietnya kapan-kapan aja"
Sesederhana di lemari ada tumis cumi buatan Ibuk kalau kita sedang berantem, tanda damai ceritanya.

Iya, sesederhana itu saja.