Setelah perdebatan itu, yang kemudian tetap menghasilkan dua poros pendapat yang berbeda, setidaknya aku mengambil satu kesimpulan kecil; bahwa pandangan seseorang soal masalah finansial dalam kehidupannya sedikit banyak juga dipengaruhi oleh latar belakang keadaan ekonomi dan yang lebih penting, dalam value seperti apa ia dibesarkan berkaitan dengan rejeki.
Aku sendiri berasal dari keluarga yang berkecukupan. Kata cukup aku rasa adalah kata yang paling tepat menggambarkan karena sejauh ini keluargaku bukan keluarga yang serba berada dan berlebih dalam rejeki. Cukup dalam arti, rejeki yang Allah beri melalui Ibuk dan Ayah cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, cukup untuk membiayai sekolah, cukup untuk membayar zakat, berobat dsb. Cukup dalam arti tetap harus nabung dan ngirit pengeluaran untuk memenuhi pembiayaan skala besar di masa depan. Cukup, bukan berlebih, bukan --meminjam bahasa anak sekarang-- tumpeh-tumpeh.
Sedangkan untuk value, Ayah-Ibuk memberikan pengaruh yang cukup penting dalam bagaimana aku memandang rejeki. Salah satu hal yang kemudian paling tertanam adalah bahwa gaya hidup itu pilihan. Terlepas dari apakah rejeki hari ini lebih dari rejeki kemarin ataupun sebaliknya.
Sekian puluh tahun berkarir sebagai konsultan, tentu perjalanan karir ayah ada naiknya, ada turunnya, ada berkembangnya. Begitu pun dengan Ibuk, profesi guru kini tidak berhenti pada ranah fungsional saja tapi merambah pada ranah struktural juga yang kemudian menghasilkan sebuah jenjang karir.
Tapi, entah Ibuk dan Ayah mendapat amanah yang lebih tinggi atau tidak, entah rejeki sekarang jauh lebih baik dari rejeki kemarin atau tidak, kehidupan keseharian kami begini-begini saja dari dulu.
uang jajan aku dan adik-adikku tetap tidak akan naik kalau tarif angkutan umum tidak naik,
makanan sehari-hari di rumah tidak jauh dari sayur, tempe-tahu, sambal, ikan asin, ayam sesekali,
Ayah sampai hari ini masih setia mengantar Ibuk setiap pagi ke sekolah dengan motor supra-nya, yang dibeli seken, yang kadang gak kuat di tanjakan itu.
Aku masih dilarang pulang naik pesawat kalau gak dalam keadaan mendesak dan mepet, terlalu mewah buat mahasiswa, kata Ayah selalu. Mentok-mentok kereta kelas bisnis, itu pun kalau IP sedang bagus.
Dan banyak hal lainnya.
Tidak berhenti disitu saja, Ayah juga selalu memastikan anak-anaknya hidup prihatin. Iya, kalau orangtua lain ingin sekali anak-anaknya hidup nyaman dan enak, berbeda dengan Ayah. Bagi beliau lebih penting mengajari anak-anaknya hidup prihatin dibanding hidup serba nyaman, apalagi berlebih.
Maka kemudian anak-anaknya belajar bahwa, segala "tambahan" kenyamanan yang didapat dalam hidup adalah harus hasil usaha sendiri. Sehingga aku dan adik-adikku tidak pernah meminta lebih dari apa yang diberikan kepada kami. Kalau ada lebih ya ditabung, kalau kurang ya cari pintu rejeki lain. Karena itu, aku menjadi guru les privat, kadang freelance juga, ya buka olshop juga. Pernah ditanya, memang uang jajan dari orangtuamu gak cukup, Ki? Cukup, lebih dari cukup. Tapi ada beberapa kebaikan yang bisa dilakukan dengan adanya penghasilan tambahan, dan yasudah itu aja motivasinya.
Kesederhanaan bagi kamu dan aku mungkin tidak berdefinisi sama, tapi orangtuaku mengajariku bahwa sederhana adalah tentang bagaimana kamu tetap memilih untuk hidup secukupnya walau keadaan memungkinkan kamu untuk hidup dengan lebih mewah.
Karena sekali lagi, gaya hidup itu soal pilihan. Sedangkan rejeki, di sisi lain, adalah hal yang wajib diikhtiarkan semaksimal mungkin.
Maka, kembali pada awal mula cerita panjang ini dibuat, perlu gak sih kita menjadi kaya atau berorientasi ingin jadi kaya dalam hidup ini? Secara pribadi, aku berpendapat tidak perlu.
Tidak perlu dalam arti, menjadikan status kaya itu sebagai tujuan akhir, sebagai cita-cita. Menjadi kaya itu tidak wajib, mencari nafkah yang wajib. Sebab rejeki, seperti takdir dan/atau nasib lainnya adalah sepenuhnya kuasa Allah, hak prerogratifNya, yang tidak melarang adanya usaha, yang menyediakan ruang seluas-luasnya bagi kita untik berikhtiar dengan sekuat-kuatnya dan sebesar-besarnya.
Karena tentang harta ada yang lebih penting dari urusan harus/tidaknya kita jadi kaya, yaitu keistiqomahan untuk senantiasa bermuamalah secara islam.
Prinsip itu lagi-lagi kudapatkan dari orangtua, ketika melihat Ibuk dalam menjalani pekerjaannya. Pernah suatu hari Ibuk melepaskan sebuah jabatan, mengundurkan diri karena sebuah sistem yang tidak sesuai dengan prinsipnya soal kejujuran. Sistem yang telah melukai integritasnya sebagai seorang pendidik dan hati nuraninya sebagai seorang manusia. Keputusan itu tentu saja berdampak pada "turunnya" kedudukan struktural, penurunan penghasilan, dan terputusnya kesempatan untuk mendapat jenjang karir yang lebih tinggi. Tapi toh, semua itu tak pernah jadi tujuan Ibuk mengabdikan potensi dirinya selama ini. Jabatan hilang, kedudukan turun, penghasilan menurun, tapi Ibuk tetap menjalani profesinya yang sederhana dengan bersahaja.
Dan terlebih, keputusan itu menjadi teladan besar bagi kami anak-anaknya, memberi kami nilai yang berharga tentang bagaimana menjaga 'kelurusan' dalam bekerja.
Tentu
saja Islam tidak melarang manusia untuk menjadi kaya. Sejarah mencatat
beberapa sahabat Nabi memiliki kekayaan yang berlimpah, yang kemudian
digunakan sebagai alat untuk beradakwah. Dalam hal ini, maka harta
menjadi alat, hukum cara/alat/wasilah itu mengikuti hukum tujuan. Dan
memang, ada beberapa kebaikan yang bisa dilakukan dengan adanya
kelapangan rejeki.
Jadi yaa... Berikhtiarlah saja dengan sebaik-baiknya. Dan setelah itu tinggal bertawakkal.
“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3)
Allah cukupkan keperluannya. Ketika Allah beri kelimpahan rejeki, maka memang sebegitu keperluannya, pun sebaliknya. Allah cukupkan, tidak kekurangan, dicukupkan.
Jadi, aku memang ingin hidup cukup saja. Cukup untuk diri sendiri, cukup untuk keluarga, cukup untuk sedekah, cukup untuk qurban, cukup untuk beribadah.
Kenapa toh gak merasa perlu menjadikan kaya itu sebagai cita-cita, sebagai tujuan? Selain karena percaya bahwa jumlah rejeki masing-masing kita udah ada yang ngatur, alasannya sesederhana karena bagiku sempit sekali ketika tujuan hidup cuma kaya, materil saja. Ada perbedaan yang bisa dirasakan ketika orientasi itu perlahan kita ubah.
Ketika kita sedang ikhtiar menjemput rejeki, kalau orientasinya ingin kaya, ya stress lah setiap hari lihat rekening tabungan gak nambah-nambah, atau dompet yang tipis, gak bisa beli ini beli itu. Tapi ketika orientasinya menjemput rejeki itu untuk ibadah, ketika fokusnya ada pada esensi rejekinya, ketika yang dipikirkan bukan berapa yang didapat tapi bagaimana mendapatnya, maka yaa... hari ini rejekinya segini akan sama bersyukurnya ketika rejeki besok lebih ataupun kurang. Hari ini uang di rekening tabungan sangat minim pun tetap bersyukur karena nabung gak selalu di bank, nabung bisa di bapak parkir, bisa di adek-adek pinggir jalan, bisa di saudara sendiri, bisa di kawan, bisa di mana-mana. Kan kalau sedang butuh sekali, hal yang harus dilakukan dalam mengiringi proses menjemput rejekinya adalah nabung, nabung lewat sedekah.
Ketika aku bilang seperti ini, pasti ada yang bergumam dalam hati bahwa prinsip itu utopis sekali, teori sekali. Mudah aja ki kamu ngomong gitu, hidupmu gak pernah susah, gak pernah susah makan, susah sekolah kan?
Pertama, aku setuju bahwa kemiskinan itu tidak bisa disimulasikan. Sebesar-besarnya empati kita pada keadaan orang lain, kita tetap punya keterbatasan dalam memahami kondisi orang lain ketika kita tidak sebenar-benarnya berada dalam kondisi itu.
Kedua, semua prinsip itu lahir dari nilai yang tumbuh dari orangtua, dan orangtuaku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang penuh keterbatasan. Mau sekolah mikir berkali-kali, bahkan mau makan juga mikir berkali-kali. Keduanya, bersama dengan kedua orangtua mereka, berjuang mati-matian untuk masuk sekolah, dan lebih mati-matian lagi untuk bertahan hingga selesai. Dan keadaan seperti itu yang melahirkan nilai yang mereka berdua tanamkan pada kami hari ini.
Pernah memahami rasanya kehidupan yang sulit nyatanya tidak lantas membuat keinginan hidup seba ini-itu jadi cita-cita.
Ketiga, ya se-utopisnya prinsip-prinsip itu, aku juga gak akan berani ngomong ketika aku tidak merasakannya langsung di hidupku :)
Terlebih, aku juga sangat menyepakati bahwa rejeki itu gak hanya tentang harta. Kesehatan, lingkungan yang baik, kesempatan belajar, teman-teman yang baik, orang-orang yang sayang sama kita, dsb itu juga rejeki. Karena memang hasil dari ikhtiar menjemput rejeki itu gak melulu linear, sebab, hm, bahkan poin berikhtiar itu toh bukan tentang hasilnya, kan?
Dan yang jelas, Allah telah mengatur rejeki kita dengan sedemikian presisi, kita gak perlu khawatir, cukup berjuang dan percaya.
"Laa yukallifu allahu nafsan illaa wus'ahaa"
Allah tidak membebani seorang hamba melebihi kemampuannya.
"Inna ma'al 'usri yusroo"
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
Allah beri kita kesulitan karena disaat yang sama Allah beri kemudahan di sisi lain yang memampukan kita menghadapi kesulitan itu, kan? Allah kasih rejeki dosen yang sulit karena Allah tau Allah kasih rejeki teman-teman yang baik dan sangat peduli (oke ini curhat). Allah tidak melebihkan kamu dalam harta, Allah lebihkan kamu dalam kesempatan, mudahkan dalam kamu mendapat pencerahan.
Rejeki kita, telah diatur sepresisi itu. Tinggal kita jemput sampai batas optimalnya.
Jadi yaa... begitu sedikit opini tentang rejeki. Mungkin jauh berbeda dari berbagai teori finansial, savings, investasi dll tapi yaa.. berbeda gak apa-apa kan?
Dan terakhir, teruntuk aku, juga kamu, semangat menjemput (keberkahan) rejeki! :)