Tuesday, August 30, 2016

tentang OSIS


"Ini OSIS dan lu bisa dapet apa aja"

Kalimat itu saya dengar pertama kali ketika masa regenerasi OSIS, 3 tahun yang lalu. Sang empunya kalimat adalah A Apip, ketua 1 OSIS Phinisi, saya tidak pernah bertemu orangnya, tapi kalimat itu melegenda dan diturun temurunkan dari tahun ketahun. Dan saya jamin, banyak orang menyetujuinya. Pun setuju bahwa OSIS bukan hanya tempat berhenti sementara, ia adalah rumah, yang tetap hangat menyambut setiap kali kita pulang.

Selain sepenggal kalimat di atas, ada satu kepercayaan lain yang tumbuh tentang OSIS. Banyak orang percaya, OSIS itu jodoh. Dan pertemuan masing-masing dengan jodohnya ini punya ceritanya sendiri. Perjodohan saya dengan OSIS diawali ketika dua teman saya mengajak ngobrol di depan balai kota. Bahasa di lingkup organisasi saya sekarang, saya "ditembusi", diminta untuk gabung disana. Beberapa kali berdiskusi, akhirnya saya setuju. Disanalah saya juga meyakini, ini memang "jodoh-jodohan", karena sebelumnya saya pernah punya niat untuk mendaftar, tapi karena saat itu ada amanah lain yang tidak mungkin saya dua-kan, maka form pendaftaran yang telah saya isi tidak pernah saya kumpulkan.

Kala itu-lah saya pertama kali belajar untuk ikhlas melepaskan apa yang diinginkan ketika ada hal-hal yang memang lebih membutuhkan.
Dan disana juga saya memahami, ternyata, kalau jodoh ya nggak kemana hehe.

Awal perjalanan saya dengan OSIS, saya tak membawa ekspektasi apa-apa, selain bahwa akhirnya saya bisa ikutan meneriakan jargon keren milik OSIS. Tapi seperti banyak hal yang tak kita mulai dengan harapan dan ekspektasi tinggi-tinggi, OSIS kemudian menjadi salah satu yang paling berkesan.

Kepengurusan OSIS dimulai dengan masa regenerasi (masa peralihan kepengurusan lama ke kepengurusan baru), dimana kami diberi tugas banyak, banget, seriusan, sebanyak itu. Lalu harus pakai sepatu pantofel dan id pengenal (yang lebarnya 20x40), setiap hari jam 6 pagi kami kumpul lalu lari pagi sambil nyanyi keliling lapangan, sepulang sekolah kumpul lagi, bahkan terkadang menginap untuk mengerjakan tugas, plus tugas akademik yang juga tidak bisa dilupakan. Tak heran anak-anak OSIS kerap datang dengan kantung mata dan mata panda yang terlampau terlihat.

Sampai saya sekarang sering bingung sendiri; kok saya dulu bisa gitu ya? Bisa dikerjain semuanya? Bisa kuat-kuat aja?

Tapi begitulah kemudian saya memahami sebuah prinsip manajemen diri; kamu tidak boleh membatasi diri, tapi kamu harus tahu batasan diri.

Masa-masa regen memang saya rasa "sengaja" dibuat sulit, dirancang untuk membuat lelah, didesain agar kami perih dan bersusah-susah. Supaya sejak awal kami belajar mengenal satu sama lain lewat kondisi yang sejatinya akan memunculkan diri yang sebenarnya. Supaya sejak awal kami tahu; perjuangan itu sulit.

Dan dari regen saya memahami satu hal, kekeluargaan itu dicari; bukan ditunggu. Bahwa rasa kebersamaan itu memang harus diusahakan.
Bahwa dengan bersama-sama pernah ada dalam kondisi sulit, bersama-sama saling membutuhkan, bersama-sama --mau tidak mau-- saling menyemangati, maka rasa kekeluargaan itu akan tumbuh dengan sendirinya.

Masa kedua yang sering membuat nyes di hati ketika diingat-ingat adalah masa-masa smansa day. Tak perlu panjang lebar, yang jelas saking kami jatuh bangun selama prosesnya, saya dan beberapa teman sampai menitikan air mata di belakang panggung ketika Sheila On 7 menyanyikan 'Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki' sebagai penutup acara.

Dan smansa day mengajari saya makna dari mantra yang selama ini dielu-elukan di OSIS; we'll fight, we'll win. Rumah itu dan orang-orang di dalamnya pernah mengajari saya sebenar-benarnya makna berjuang, juga sebenar-benarnya makna berbaik sangka pada Allah.

Lingkaran-lingkaran saya selepas OSIS tak bisa saya pungkiri adalah lingkaran yang hebat-hebat juga. Saya bertemu dan mengenal banyak orang-orang keren, saya semakin memahami indahnya kebaikan pun lewat kehidupan kuliah. Tapi harus saya akui, OSIS adalah rumah pembelajaran yang sangat berkesan dan sebagai organisasi "kelas" sekolah menengah, OSIS punya kaderisasi yang sangat, sangat baik. Sistem yang dibangun "seolah-olah" sudah bisa jalan sendiri. Nilai yang ada terinternalisasi dengan baik ke setiap orangnya. Solidaritas? Jangan ditanya. Pergantian pemimpin dan kepengurusan berlangsung setiap tahun dengan ke-khasan masing-masing tapi tetap membawa visi besar yang sama.

Sebut saya berlebihan, tapi saya yakin mereka-mereka yang pernah dibesarkan di rumah ini akan menyepakatinya. Mereka-mereka yang pernah tumbuh disini akan setuju bahwa rumah ini pernah memberikan pelajaran yang bermakna. Karena bahkan, saking berkesannya, beberapa alumni OSIS yang berjodoh dengan sesama alumni OSIS --ya, bahkan disini kamu bisa dapat jodoh-- melantangkan jargon OSIS di pelaminannya (saya bukan yang paling berlebihan, kan?), aa teteh yang sudah menggendong anak saja masih dengan antusias menyempatkan hadir di event-event yang dilaksanakan.

Tentang OSIS memang tidak ada habis-habisnya. Saya menemukan banyak disana, menemukan sebuah pola kerja yang efektif, menemukan teman, menemukan sahabat, menemukan keluarga, menemukan kamu. Dan pulangnya saya ke Bogor liburan ini membuat saya sadar bahwa OSIS dan segala jenis penghuninya adalah sepenggal kisah hidup yang --akan selalu-- indah dan tidak bosan-bosannya untuk dikenang dan diceritakan kembali (meski, tentu saja, tidak untuk diulang).

Salam hangat,
Mediasi Manuver 13/14

30 Agustus 2016,
bogor yang dirundung hujan seharian.

Tuesday, August 23, 2016

Dan meski masalah pulang dan pergi ini sudah jadi bagian dari rutinitas. Meski jarak 591 km yang memisahkan tidak lagi semengejutkan dulu. Meski ada lingkaran-lingkaran baru disana yang membersamai,

Nyatanya pergi masih tidak mudah, dan pulang akan selalu jadi hal yang ditunggu.

Meski sekarang aku tidak lagi nangis ketika dipeluk ibu erat sebelum melaju,
Tapi ibu yang masih menyeka kedua matanya menunjukan, perpisahan dalam bentuk apapun, meski hanya dalam waktu singkat, memang tidak pernah mudah.

Dan karena itu pun aku tahu, mereka punya hak untuk rindu meski bukan aku yang berkewajiban membayarnya lunas karena kita sama sama paham; ada kebaikan yang lebih besar yang ingin dicapai. Tapi, untuk apa segala gemilang mampu dicapai, segala cita mampu diraih, ketika tak ada siapa-siapa untuk kita kembali pulang. Karena itu, aku memilih menjadi bagian dari orang-orang yang menyempatkan diri untuk datang tiap kali aku bisa.

Ya, hidup harus dijalani. Senang sedih adalah dinamika yang selalu berganti. Meski terseok-seok atau berjalan sambil menangis. Meski merasa di atas awan dan hidup berwarna setiap hari. Hidup harus tetap dijalani.

Dan dalam setiap langkahnya, tentu saja, disyukuri.

Semoga empat bulan kedepan banyak ilmu yang bisa memberi manfaat, banyak kebaikan yang dipetik, banyak pemahaman baru yang diterima.
Semoga empat bulan kedepan, langkah dan hati ini dikuatkan, dilapangkan dan dijauhkan dari segala keburukan prasangka.

Semoga empat bulan itu sebentar saja.