Wednesday, December 11, 2019

Tentang Sebuah Rumah

Ada sebuah rumah yang sempat aku tinggali, 3 tahun lamanya.

Rumah itu pernah tertimpa hujan, angin topan, banjir bandang, sambaran petir. Pernah bocor atapnya, rusak pintunya, hancur dindingnya. Begitu banyak penghuninya yang datang dan pergi, kadang tercerai berai, kadang hangat selayaknya keluarga. Silih berganti, memberi warna sendiri, menghidupkan dengan caranya masing-masing.

Aku diberi kesempatan merasa, mengalami, mengenal segala rupa.

Hingga waktu membuatku perlu mencukupkan segalanya. Orang-orang bilang, saatnya memulai lembar baru.

Aku tidak tau apa itu lembar baru. Atau mengapa kita perlu segala sesuatu yang 'baru' itu. Mempertahankan (si)apa-(si)apa yang sudah ada memang apa salahnya?

Tapi begitulah mungkin semua orang menjalani hidup. Fase, kadang kita menyebutnya.

Sayangnya aku sudah terlalu cinta. Pada rumahnya, pada penghuninya. Hingga hari dimana aku harus berhenti tinggal disana, aku linglung sendiri.

Maka, sulit buatku tetap mengunjungi rumah itu. Sulit buatku tetap menemui penghuni-penghuninya. Sulit tetap seperti dulu, tanpa memunculkan lagi kenangan manis-pahitnya dalam 36 purnama yang telah terlewati. Sulit untuk memulai yang baru bila tetap merawatnya. Walau ingin, sangat ingin. Tapi akan sulit aku berjalan seterusnya, sebab ternyata aku sebegitu cintanya.

Terimakasih 3 tahunnya, Wajah Baru, Komune Karta, Rakaadi.

Terimakasih, pada manusia-manusia yang hadir mengisi. Semoga lain waktu kita bersama-sama lagi, --ya tapi tidak juga tidak apa-apa, sih. Tetaplah hidup dengan baik saja, itu cukup. Hehe