"Ki lu di Bogor?"
"Sampe kapan di Bogor?"
"Pada balik gak liburan ini?"
"Ayo pulang, ke smansa"
"Mau ayam bakar depan Taman Topi"
"Meet up, yuk!"
Percakapan-percakapan macam itu yang biasanya terjadi di musim liburan seperti ini. Maklum selepas menjadi anak rantau, kalau pulang ke rumah gak punya temen lain selain temen jaman SMP-SMA.
Maka, sesekali bersama semangkuk Mie Ayam Mas Bejo, atau Es Doger Gang Selot, beberapa dari kita saling mengusahakan untuk duduk bersama, sekedar bercerita, sekedar mengulang cerita, atau kadang bagiku, cukup duduk bersama tak banyak bicara.
.
Tak bisa dipungkiri, sekelebat rasa asing itu terkadang hadir. Toh kenyataanya kita memang kini sedang belajar tumbuh di tempat berbeda, sehingga "cita rasa" kita pada banyak hal juga jadi tidak sama. Tapi tidak apa-apa. Ternyata keindahan tidak selalu hadir dari kesamaan, ia juga bisa hadir dari perbedaan yang saling berpadu.
.
Selepas bertemu mereka selalu membuatku memandangi jalan dari dalam angkot dengan senyuman, mengulang lagi kisah beberapa tahun silam.
Ah, begitu banyak yang berubah dan kita masih tetap sama.
.
Thursday, December 29, 2016
Saturday, September 24, 2016
Saat keluar gerbang sore tadi, langit sedang luar biasa mendungnya. Aku -yang sudah bersiap mengeluarkan motor dan sudah berpakaian lengkap dengan masker+jaket+sarung tangan- tertegun sesaat memandang ke langit. Dalam hati sudah tahu, rencana sore ini harus batal karena akhir-akhir ini hujan Solo sedang tidak main-main, terlalu beresiko kalau ku tetap nekat naik motor dengan cuaca seperti ini. Untungnya, rencana sore ini tidak berhubungan dengan oranglain jadi ketika harus batal tidak ada yang dirugikan selain diri sendiri.
Akhirnya aku kembali ke kamar, berganti pakaian dan duduk di atas kasur menunggu hujan turun. Tak lama kemudian angin terasa masuk lewat jendela yang sengaja dibuka lebar-lebar, lalu diiringi suara hujan.
Semenjak merantau, hujan --seperti juga banyak hal lain dalam hidupku-- memiliki definisi barunya masing-masing. Hujan jadi lebih sentimental dan ada nyes rasa melow di hati ketika hujan datang. Untungnya, disini hujan memang hanya datang di musimnya saja, tidak seperti di Bogor yang setiap hari harus ada payung di dalam tas karena kotanya suka sekali memberi kejutan hujan tiba-tiba. Karena itu, aku suka sekali menghindar ketika turun hujan. Meminjam bahasa Freud, kupakai berbagai defense mechanism ketika hujan biar aku gak baper. Kadang aku tidur, kadang kupakai earphone dan dengerin musik kenceng-kenceng, kadang aku baca buku, atau kadang ngungsi ke kamar sebelah dan ngobrol dengan khusyuk.
Tapi, menghindar tidak pernah membuatmu lulus ujian. Pada suatu waktu ketika kamu merasa sudah cukup untuk menghindar, sudah saatnya belajar untuk menghadapi.
Tidak harus langsung lulus. Remedial berkali-kali tidak apa-apa, Tuhan tidak punya batasan seberapa kali kamu boleh ikut ujian ulang, kok.
Karena itu sore tadi kuhabiskan dengan duduk "menikmati" hujan.
Dan aku masih belum berdamai dengannya, masih belum lulus.
Tapi satu hal yang aku pahami hari ini;
Hingga saat ini, tak peduli dimana ku sekarang dan siapa-siapa yang membersamai,
Pulang masih tentang sebuah perjalanan 591 km kereta
Rumah masih tentang Ayah, Ibu dan Adik-adik
Keluarga masih tentang orang-orang yang sama
dan hujan
masih tentang Bogor.
Berjarak telah membuatku me-redefinisi banyak hal. Memahami berbagai hal baru dan seperti yang sudah orang lain beratus-ratus kali katakan; membuat aku menghargai setiap perjumpaan.
Tapi berjarak juga ternyata menguatkan makna empat hal itu. Dan memang, apa-apa yang berharga dan memberikan arti, tak akan begitu saja mudah berubah.
Dan untuk hujan,
tak apa besok datang lagi. Aku siap di remedial.
Wednesday, September 21, 2016
Ikhlas itu gampang, yang susah ikhlas terus. Menerima itu gampang, yang susah menerima terus. Memahami itu gampang, yang susah memahami terus. Positif itu gampang, yang susah positif terus. Patuh itu gampang, yang susah patuh terus. Menjaga perasaan orang lain itu gampang, yang susah menjaga perasaan orang lain terus. Menulis itu gampang, yang susah menulis terus. Ngaji itu gampang, yang susah ngaji terus.
—
“Maka”, kata Imam Al-Ghazali, “tidak ada baiknya kebaikan yang tidak terus. Malahan, keburukan yang tidak terus, lebih baik daripada kebaikan yang tidak terus”
via tumblr
Tuesday, August 30, 2016
tentang OSIS
"Ini OSIS dan lu bisa dapet apa aja"
Kalimat itu saya dengar pertama kali ketika masa regenerasi OSIS, 3 tahun yang lalu. Sang empunya kalimat adalah A Apip, ketua 1 OSIS Phinisi, saya tidak pernah bertemu orangnya, tapi kalimat itu melegenda dan diturun temurunkan dari tahun ketahun. Dan saya jamin, banyak orang menyetujuinya. Pun setuju bahwa OSIS bukan hanya tempat berhenti sementara, ia adalah rumah, yang tetap hangat menyambut setiap kali kita pulang.
Selain sepenggal kalimat di atas, ada satu kepercayaan lain yang tumbuh tentang OSIS. Banyak orang percaya, OSIS itu jodoh. Dan pertemuan masing-masing dengan jodohnya ini punya ceritanya sendiri. Perjodohan saya dengan OSIS diawali ketika dua teman saya mengajak ngobrol di depan balai kota. Bahasa di lingkup organisasi saya sekarang, saya "ditembusi", diminta untuk gabung disana. Beberapa kali berdiskusi, akhirnya saya setuju. Disanalah saya juga meyakini, ini memang "jodoh-jodohan", karena sebelumnya saya pernah punya niat untuk mendaftar, tapi karena saat itu ada amanah lain yang tidak mungkin saya dua-kan, maka form pendaftaran yang telah saya isi tidak pernah saya kumpulkan.
Kala itu-lah saya pertama kali belajar untuk ikhlas melepaskan apa yang diinginkan ketika ada hal-hal yang memang lebih membutuhkan.
Dan disana juga saya memahami, ternyata, kalau jodoh ya nggak kemana hehe.
Awal perjalanan saya dengan OSIS, saya tak membawa ekspektasi apa-apa, selain bahwa akhirnya saya bisa ikutan meneriakan jargon keren milik OSIS. Tapi seperti banyak hal yang tak kita mulai dengan harapan dan ekspektasi tinggi-tinggi, OSIS kemudian menjadi salah satu yang paling berkesan.
Kepengurusan OSIS dimulai dengan masa regenerasi (masa peralihan kepengurusan lama ke kepengurusan baru), dimana kami diberi tugas banyak, banget, seriusan, sebanyak itu. Lalu harus pakai sepatu pantofel dan id pengenal (yang lebarnya 20x40), setiap hari jam 6 pagi kami kumpul lalu lari pagi sambil nyanyi keliling lapangan, sepulang sekolah kumpul lagi, bahkan terkadang menginap untuk mengerjakan tugas, plus tugas akademik yang juga tidak bisa dilupakan. Tak heran anak-anak OSIS kerap datang dengan kantung mata dan mata panda yang terlampau terlihat.
Sampai saya sekarang sering bingung sendiri; kok saya dulu bisa gitu ya? Bisa dikerjain semuanya? Bisa kuat-kuat aja?
Tapi begitulah kemudian saya memahami sebuah prinsip manajemen diri; kamu tidak boleh membatasi diri, tapi kamu harus tahu batasan diri.
Masa-masa regen memang saya rasa "sengaja" dibuat sulit, dirancang untuk membuat lelah, didesain agar kami perih dan bersusah-susah. Supaya sejak awal kami belajar mengenal satu sama lain lewat kondisi yang sejatinya akan memunculkan diri yang sebenarnya. Supaya sejak awal kami tahu; perjuangan itu sulit.
Dan dari regen saya memahami satu hal, kekeluargaan itu dicari; bukan ditunggu. Bahwa rasa kebersamaan itu memang harus diusahakan.
Bahwa dengan bersama-sama pernah ada dalam kondisi sulit, bersama-sama saling membutuhkan, bersama-sama --mau tidak mau-- saling menyemangati, maka rasa kekeluargaan itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Masa kedua yang sering membuat nyes di hati ketika diingat-ingat adalah masa-masa smansa day. Tak perlu panjang lebar, yang jelas saking kami jatuh bangun selama prosesnya, saya dan beberapa teman sampai menitikan air mata di belakang panggung ketika Sheila On 7 menyanyikan 'Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki' sebagai penutup acara.
Dan smansa day mengajari saya makna dari mantra yang selama ini dielu-elukan di OSIS; we'll fight, we'll win. Rumah itu dan orang-orang di dalamnya pernah mengajari saya sebenar-benarnya makna berjuang, juga sebenar-benarnya makna berbaik sangka pada Allah.
Lingkaran-lingkaran saya selepas OSIS tak bisa saya pungkiri adalah lingkaran yang hebat-hebat juga. Saya bertemu dan mengenal banyak orang-orang keren, saya semakin memahami indahnya kebaikan pun lewat kehidupan kuliah. Tapi harus saya akui, OSIS adalah rumah pembelajaran yang sangat berkesan dan sebagai organisasi "kelas" sekolah menengah, OSIS punya kaderisasi yang sangat, sangat baik. Sistem yang dibangun "seolah-olah" sudah bisa jalan sendiri. Nilai yang ada terinternalisasi dengan baik ke setiap orangnya. Solidaritas? Jangan ditanya. Pergantian pemimpin dan kepengurusan berlangsung setiap tahun dengan ke-khasan masing-masing tapi tetap membawa visi besar yang sama.
Sebut saya berlebihan, tapi saya yakin mereka-mereka yang pernah dibesarkan di rumah ini akan menyepakatinya. Mereka-mereka yang pernah tumbuh disini akan setuju bahwa rumah ini pernah memberikan pelajaran yang bermakna. Karena bahkan, saking berkesannya, beberapa alumni OSIS yang berjodoh dengan sesama alumni OSIS --ya, bahkan disini kamu bisa dapat jodoh-- melantangkan jargon OSIS di pelaminannya (saya bukan yang paling berlebihan, kan?), aa teteh yang sudah menggendong anak saja masih dengan antusias menyempatkan hadir di event-event yang dilaksanakan.
Tentang OSIS memang tidak ada habis-habisnya. Saya menemukan banyak disana, menemukan sebuah pola kerja yang efektif, menemukan teman, menemukan sahabat, menemukan keluarga,
Salam hangat,
Mediasi Manuver 13/14
30 Agustus 2016,
bogor yang dirundung hujan seharian.
Tuesday, August 23, 2016
Dan meski masalah pulang dan pergi ini sudah jadi bagian dari rutinitas. Meski jarak 591 km yang memisahkan tidak lagi semengejutkan dulu. Meski ada lingkaran-lingkaran baru disana yang membersamai,
Nyatanya pergi masih tidak mudah, dan pulang akan selalu jadi hal yang ditunggu.
Meski sekarang aku tidak lagi nangis ketika dipeluk ibu erat sebelum melaju,
Tapi ibu yang masih menyeka kedua matanya menunjukan, perpisahan dalam bentuk apapun, meski hanya dalam waktu singkat, memang tidak pernah mudah.
Dan karena itu pun aku tahu, mereka punya hak untuk rindu meski bukan aku yang berkewajiban membayarnya lunas karena kita sama sama paham; ada kebaikan yang lebih besar yang ingin dicapai. Tapi, untuk apa segala gemilang mampu dicapai, segala cita mampu diraih, ketika tak ada siapa-siapa untuk kita kembali pulang. Karena itu, aku memilih menjadi bagian dari orang-orang yang menyempatkan diri untuk datang tiap kali aku bisa.
Ya, hidup harus dijalani. Senang sedih adalah dinamika yang selalu berganti. Meski terseok-seok atau berjalan sambil menangis. Meski merasa di atas awan dan hidup berwarna setiap hari. Hidup harus tetap dijalani.
Dan dalam setiap langkahnya, tentu saja, disyukuri.
Semoga empat bulan kedepan banyak ilmu yang bisa memberi manfaat, banyak kebaikan yang dipetik, banyak pemahaman baru yang diterima.
Semoga empat bulan kedepan, langkah dan hati ini dikuatkan, dilapangkan dan dijauhkan dari segala keburukan prasangka.
Semoga empat bulan itu sebentar saja.
Nyatanya pergi masih tidak mudah, dan pulang akan selalu jadi hal yang ditunggu.
Meski sekarang aku tidak lagi nangis ketika dipeluk ibu erat sebelum melaju,
Tapi ibu yang masih menyeka kedua matanya menunjukan, perpisahan dalam bentuk apapun, meski hanya dalam waktu singkat, memang tidak pernah mudah.
Dan karena itu pun aku tahu, mereka punya hak untuk rindu meski bukan aku yang berkewajiban membayarnya lunas karena kita sama sama paham; ada kebaikan yang lebih besar yang ingin dicapai. Tapi, untuk apa segala gemilang mampu dicapai, segala cita mampu diraih, ketika tak ada siapa-siapa untuk kita kembali pulang. Karena itu, aku memilih menjadi bagian dari orang-orang yang menyempatkan diri untuk datang tiap kali aku bisa.
Ya, hidup harus dijalani. Senang sedih adalah dinamika yang selalu berganti. Meski terseok-seok atau berjalan sambil menangis. Meski merasa di atas awan dan hidup berwarna setiap hari. Hidup harus tetap dijalani.
Dan dalam setiap langkahnya, tentu saja, disyukuri.
Semoga empat bulan kedepan banyak ilmu yang bisa memberi manfaat, banyak kebaikan yang dipetik, banyak pemahaman baru yang diterima.
Semoga empat bulan kedepan, langkah dan hati ini dikuatkan, dilapangkan dan dijauhkan dari segala keburukan prasangka.
Semoga empat bulan itu sebentar saja.
Tuesday, May 24, 2016
tentang niat,
Salah satu hal paling krusial ketika kamu berkecimpung dalam gerak sosial adalah menjaga niat. (Ya, sebenarnya dimanapun kamu memilih untuk mengabdikan potensi dirimu, niat adalah hal yang senantiasa diuji, sih)
Tapi dalam gerak sosial, ada tantangannya tersendiri. Karena, gak bisa dipungkiri, jaman sekarang (atau setidaknya dari fakta lapangan yang pernah aku hadapi) dunia sosial menjadi komoditi yang menggiurkan bagi pihak-pihak yang punya "kepentingan", sering digunakan sebagai "perwajahan lain" dari suatu tempat, ya katakanlah saja begitu.
Kedua, keinginan dipandang baik adalah naluriah bagi seorang manusia. Karena, ya gak ada yang ingin dipandang buruk, kan?
Kadang dilematis, bagiku pribadi juga. Seringkali ingin berbagi cerita yang mungkin ada pembelajarannya bagi banyak orang, tapi gimana yaa caranya agar kerja-kerjaku nya gak perlu orang lain tau? Pada akhirnya cuma bisa menguatkan niat; bismillah, ini untuk "menginspirasi" bukan riya.
Tapi dalam gerak sosial, ada tantangannya tersendiri. Karena, gak bisa dipungkiri, jaman sekarang (atau setidaknya dari fakta lapangan yang pernah aku hadapi) dunia sosial menjadi komoditi yang menggiurkan bagi pihak-pihak yang punya "kepentingan", sering digunakan sebagai "perwajahan lain" dari suatu tempat, ya katakanlah saja begitu.
Gak ada yang salah, karena kita harus pandai bersiasat, katanya. Tapi mungkin bagiku dan beberapa orang, ada rasa ganjil saja di hati karena kami sejak awal tak pernah punya maksud apa-apa dibalik apa yang kami lakukan.
Dan memutuskan untuk tidak terlibat dalam lingkaran yang berkaitan dengan politik praktis, buatku seorang, adalah sebagai benteng pertahanan, sebagai pencegahan. Yaa meski mau gak mau, suka gak suka, kecipratan dikit pasti apalagi ranah mengabdi yang dipilih masih di sebuah lembaga pergerakan.
Maka, menjaga kelurusan niat dalam beramal ketika dihadapkan pada situasi seperti itu, jadi PR tersendiri
Itu pertama.
Itu pertama.
Kedua, keinginan dipandang baik adalah naluriah bagi seorang manusia. Karena, ya gak ada yang ingin dipandang buruk, kan?
Kadang dilematis, bagiku pribadi juga. Seringkali ingin berbagi cerita yang mungkin ada pembelajarannya bagi banyak orang, tapi gimana yaa caranya agar kerja-kerjaku nya gak perlu orang lain tau? Pada akhirnya cuma bisa menguatkan niat; bismillah, ini untuk "menginspirasi" bukan riya.
Tapi ya gitu, kadang harus berhati-hati aja. Gak semua hal yang kita lakukan harus diceritakan atau diperlihatkan pada orang lain. Dan meskipun mengundang banyak perdebatan, (sekali lagi kuulangi tidak semua orang sepakat dengan ini dan mereka punya alasan yang kuat dan pasti baik) tapi aku setuju dengan orang-orang yang memilih "bermanfaat dalam diam", yang memilih membiarkan dua malaikat di pundak kita saja yang mencatatnya setiap waktu.
Dan menurutku, cara terbaik menjaga niat adalah dengan semakin mendekatkan diri sama Allah. Juga mengingat-ingat, mungkin saja segala kemampuan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan adalah caranya Allah memberi kita kesempatan untuk menghapus dosa-dosa kita. Sehingga kita tak pernah boleh merasa lebih baik dari siapapun, yang kita lakukan ini cuma "nyicil menghapus dosa aja".
Kita juga harus senantiasa ingat dan meyakini, bahwasanya Allah adalah pemberi rejeki. Kita tak pernah punya kuasa dan kemampuan memberi apapaun pada siapapun. Kita hanya perantara. Jadi segala hal-hal baik (entah itu berupa materil dan non materil) yang kita lakukan pada orang lain, itu adalah kebaikan yang Allah perantarakan melalui kita.
Dan menurutku, cara terbaik menjaga niat adalah dengan semakin mendekatkan diri sama Allah. Juga mengingat-ingat, mungkin saja segala kemampuan atas kebaikan-kebaikan yang kita lakukan adalah caranya Allah memberi kita kesempatan untuk menghapus dosa-dosa kita. Sehingga kita tak pernah boleh merasa lebih baik dari siapapun, yang kita lakukan ini cuma "nyicil menghapus dosa aja".
Kita juga harus senantiasa ingat dan meyakini, bahwasanya Allah adalah pemberi rejeki. Kita tak pernah punya kuasa dan kemampuan memberi apapaun pada siapapun. Kita hanya perantara. Jadi segala hal-hal baik (entah itu berupa materil dan non materil) yang kita lakukan pada orang lain, itu adalah kebaikan yang Allah perantarakan melalui kita.
Kita, sekali lagi, hanya perantara.
Sehingga bisa jadi (dan mungkin yang seringkali terjadi) bukan karena kita yang baik, tapi karena orang yang kita bantu/tolong teramat baik di mata Allah, Allah gerakan hati kita untuk menolongnya atau melakukan hal-hal baik padanya.
Pada akhirnya, niat dan penjagaannya adalah urusan kita denganNya, yang tidak akan diketahui siapapun juga. Iya, kita tak pernah tau apa yang hadir dalam hati manusia, kan?
Sehingga bisa jadi (dan mungkin yang seringkali terjadi) bukan karena kita yang baik, tapi karena orang yang kita bantu/tolong teramat baik di mata Allah, Allah gerakan hati kita untuk menolongnya atau melakukan hal-hal baik padanya.
Pada akhirnya, niat dan penjagaannya adalah urusan kita denganNya, yang tidak akan diketahui siapapun juga. Iya, kita tak pernah tau apa yang hadir dalam hati manusia, kan?
Jadi,
selamat baik-baik menjaga niat! :)
Saturday, May 14, 2016
I will not ask you to love me this way
or that way.
I will not ask you to remember what my favorite color is or to
give me flowers on valentine’s
I will not ask you to remember when and where we first met
and what I was wearing at that time
I won’t even mind if you miss my birthday
You can, but you don’t have to
I will not ask you to love me this way
or that way.
Just love me the best way you know how
I mean, isn’t that what destiny all about?
When the best way you know how to love someone
is the same way I wish my entire life to be loved?
Surakarta, Mei 2016
[Efek terlalu dalam mempersiapkan presentasi bab 'cinta']
Sunday, March 13, 2016
An Escape Bag
My dad told me to have an escape bag. A bag we'll carry just in case something happens to our house. Inside of it, we store everything we believe we need the most. Some important documents, keys, cash, license, important phone number, anything.
So, if our house is burning out and we're panicking, we'll just have to take that one bag and then we can run as fast as we could and leave the house.
But what if, the thing that's about to burn out, the thing that we want to run away from, the thing to be left behind, is not our house,
but something much bigger than the house?
Like maybe, our life?
What is that bag supposed to have on the inside?
How do we decide what part of our life we want to take and what part we want to forget?
How do we choose those people we'll let in and those we will not?
How do we know that everything inside that bag is everything we'll ever need? That we won't regret later because we left what matters the most behind?
Friday, January 01, 2016
tentang masa depan
*disela-sela membaca buku abnormal*
Sudah capek karena membahas hidup yang galau terus, capek ngisi postingan blog dengan kagundahan hati soal susahnya hidup, yang padahal susah senangnya hidup itu tergantung sudut pandang dan perspektif sendiri. Yang sebenernya kita bisa bahagia kalau mau, bisa sedih juga kalau mau. Jadi mari membicarakan hal yang agak baru, tentang masa depan.
Saya suka rada-rada gimana gitu kalau bahas tentang masa depan, biasanya menghela nafas dalam-dalam karena i have no idea about it. At all.
Tapi mungkin definisi masa depan bagi setiap orang berbeda, bagi sebagian anak-anak, masa depan mungkin adalah ketika tidur tidak lagi diatas kardus bekas yang keras, ketika selimut bukan lagi angin malam, dan atap rumah bukan lagi hitamnya langit. Bagi sebagian anak lainnya masa depan adalah ketika mereka bisa memakai jas dan dasi sebagus dan serapi ayah mereka, atau bisa memiliki baju dan kotak perhiasan sendiri secantik yang ibu mereka punya
Dan bagi seseorang yang saya kenal dengan baik masa depan itu sederhana, ketika bunyi perut kelaparan tidak lagi menjadi teman sebelum tidur.
Bagi teman-teman saya sekarang, masa depan mungkin adalah ketika rencana dan mimpi yang mereka rancang dalam otak mereka bisa terwujud suatu saat nanti. Dan mereka adalah visioner, punya mimpi yang besar gak ece-ece doang.
Ya, kalau mendengar mimpi-mimpi itu terlontar dari mulut mereka saya suka takjub sendiri, orientasi pemikiran mereka bukan lagi hari esok tapi sepuluh dua puluh tahun kedepan.
Bagi orang-orang muda seperti om dan tante saya, yang baru menjadi para orangtua muda, yang baru mulai menjajaki karir dalam hidupnya. Masa depan mungkin adalah ketika seluruh kerja keras mereka menghasilkan sesuatu yang pantas. Ketika anak-anak mereka bisa tumbuh dan bersekolah dengan baik. Ketika mereka sebagai orang-orang muda mampu mencapai kata sukses yang paling tinggi.
Bagi orangtua saya, masa depan mungkin adalah ketika akhirnya mata mereka menjadi saksi atas keberhasilan anak-anaknya. Ketika mereka merasa bahwa segala perjuangan dan pengorbanannya terbayar
Bagi adik-adik saya, masa depan mungkin ketika mereka tidak lagi harus meminta uang pada ayah dan ibu, ketika mereka punya kebebasan untuk membeli apa yang mereka sukai.
Dan bagi saya,
Masa depan adalah ketika akhirnya saya mengerti apa sesungguhnya fungsi saya di jagad raya ini, ketika saya tahu bahwa saya bukanlah sekedar makhluk hidup yang hanya hadir di dunia, bukan hanya seorang Homo sapiens yang hidup hanya agar dapat terus menghisap O2 dan mengeluarkan CO2, tapi jadi hamba Tuhan yang berfungsi juga.
Bagi saya, mungkin masa depan adalah beberapa tahun lagi ketika saya mampu mendapat gelar yang saya impikan, mampu berdiri dengan bahagia dan melihat kedua orang tua saya tersenyum bangga.
Ketika saya bisa bekerja di bidang yang saya sukai. Bekerja untuk pekerjaan yang saya lakukan dengan ikhlas, bekerja tanpa membuat saya mengeluh dan merasa bosan.
Suatu hari nanti dimana saya bisa menaiki puncak tantangan, ketika saya bisa mencicipi rupa-rupa pengalaman hidup, bisa memecah ketidakmungkinan dari mimpi saya yang kata orang tidak mungkin.
Dan mungkin,
Masa depan itu adalah waktu ketika dunia akhirnya mengirimkan seseorang yang bisa membuat saya mengerti mengapa orang bilang jatuh cinta itu menyenangkan.
Subscribe to:
Posts (Atom)