Wednesday, December 19, 2012




Memang hidup yang terlalu ‘flat’ ataukah saya yang kurang bersyukur?
.
.
.
.
.
entah.

Sunday, December 16, 2012

Aneh ya

UAS selesai. Yipiieeeee *joged jeruk*. Yang ditinggal di belakang itu biarin aja ya, lupakan. Soal-soal sadis yang bikin nangis berdarah-darah itu biarin aja ya, tinggalkan. Sambut liburan dengan sebenar-benarnya bersyukur, bahwa itu yang terbaik yang bisa diberikan. Gak terbaik sih, tapi ya udah, lupakan.




And it was really happened during my exam! Wakakak

Masih ada bagi rapot. Yang masih ditunggu dengan dag dig dug. Dulu sih ya do'anya 'YaAllah mudah-mudahan dapet ranking' atau 'YaAllah semoga nilainya bagus2" bisa juga 'YaAllah semoga gaada tujuhnya' tapi sekarang, melihat betapa bikin depresinya soal-soal itu, doanya gak gitu lagi, cuma
"Terserah Kau sajalah, Ya Allah" antara rasa takut, tegang, lelah. Dan, pasrah. Ya, terserah Kau sajalah.

Sedikit percakapan singkat semasa UAS.

"Menurut gue sih, nilai itu gak akan menentukan masa depan gue"
"Wah, berarti lo kalo ulangan gak nyontek ya."
"Hah? Gue nyontek hahaha apa hubungannya?"
Ko aneh ya?
"Lah katanya nilai gak penting, kalo nyontek kan berarti ngejar nilai banget?"
"..."
*kemudian hening*

--------

"Udahlah Tuhan itu adil, tau kan Allah itu adil"
*tiba-tiba terlintas sesuatu di kepala*
"Iya bener, tau juga kan kalau kejujuran itu akan dibalas oleh Allah dengan adil?"
"..."
*kemudian hening*

---------
Ya begitulah.

Sunday, December 09, 2012

Sore Yang Hangat

Harusnya sekarang gak bikin post. Harusnya. Niatnya. Tapi ternyata ada yang harus diungkapkan, dan tidak bisa menunggu. Tidak bisa, apalagi sampai liburan.

Obrolan ringan dengan ayah sore tadi yang -selalu- membuka fikiran jadi lebih terarah, yakin dan ngangguk-ngangguk sendiri. Selalu ada cara menyampaikan hal yang agak rumit menjadi hal yang mudah dipahami. Tentang prinsip, kedudukan, komitmen, usaha, kerja keras terlebih dasar dalam hidup. Sudah sebegitu gedenya kah? Sampai obrolan di sore hari bukan lagi tentang bertanya pr, bukan lagi tentang 'temen yang nakal', bukan lagi tentang kartun baru, tapi tentang nasihat untuk memilih banyak hal dalam lintasan hidup nantinya. 

Menjadi diri sendiri, melihat pengorbanan dan belajar untuk peduli, membuka mata lebar-lebar dan sadar bahwa mereka -secara tidak langsung- adalah orang-orang yang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan.
Ku selalu merasa, secara akademis otakku masih kalah jauh dengan banyak orang di sekitarku. Ditambah rasa malas yang meski sudah mati-matian dihilangkan, selalu punya 1001 cara untuk menginfeksi lagi. Lalu untuk semua yang telah dicapai itu, dari mana?
Maksudnya, ketika dulu bisa masuk 5 besar misalnya, aneh, heran. Tuhan adil kan? Bukannya gak bersyukur, tapi ada orang yang belajar jauh lebih keras, yang 'ingin' lebih kuat, tidak mendapat kesempatan untuk itu. 
Terus kok aku ya? Yang -jujur- selalu merasa ketika belajar, ulangan dsb belum -selalu belum- memberikan kemampuan terbaik yg ku punya. Modalku ya cuma belajar, doa dan jujur itu doang. Dan ternyata orang itu enggak. Sayang ya. Usahanya udah sampai batas maksimal, keinginannya udah mengepul-ngepul, tapi akhirnya kandas karena curang. Tuhan itu adil, dan keadilan itu datang pada waktunya. Dan lihat, tempat terbaik, untuk orang terbaik. Gak peduli seberapa orang hebat dalam curang, toh mereka yang menduduki posisi terbaik itu selalu yang jujur dan rajin kan? Jujur itu modal awal. Selebihny percaya aja, hasil ya urusan nanti. Menurut pengalamanku, semenjak memutuskan untuk tidak melakukan hal-yang-disebut-kebiasaan itu, kejujuran dan usaha adalah dua porsi terbesar dalam menentukan hasil akhir. Jadi ya jujur aja. 

Tapi hari ini, ku udah bertekad. Kalo jujur doang tapi usahanya gak maksimal ya gak bisa dibenarkan juga kan? Apalagi mengingat obrolan tadi, karena itu usahanya harus lebih keras. Lebih, lebih keras. Ketika apa yang kita perjuangkan bukan semata untuk diri kita sendiri, tapi untuk mereka, orang-orang yang menggantungkan harapan dan do'anya di pundak kita. Yang meminta kita menjadi contoh bagi yang lainnya. Yang meminta kita memberikan perubahan kecil dari takdir.

Kalau aku gagal bukan hanya aku yang akan sedih. Tapi mereka. Orang-orang yang telah menggantungkan harapan dan mimpi itu di pundakku. Yang berharap aku bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Yang berharap jejak langkahku bisa menjadi peta yang bisa mereka pakai nantinya. Mudahkan, kuatkan Ya Rabb.

Dan mungkin karena itu pula untuk semua yang telah dicapai. Kalau aku memang nyatanya tidak terlalu pantas untuk itu, mereka sangat pantas untuk mendapatnya dan mungkin melaluiku. Karena mereka terlalu baik, terlalu berharga untuk dikecewakan. Percaya, kesabaran itu akan dibalas, dengan lunas.

Lagi-lagi ya Rabb, terimakasih sudah membuka satu lagi relung yang selama ini tertutup rapat, melalui obrolan hangat dengannya tadi sore. Sudah mengingatkan:) semoga nasihat seperti itu tidak akan pernah putus. Sampai kapanpun.