"aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama, mencintaimu adalah sebuah proses yang aku hormati"--proses yang aku hormati-- kata-kata itu terus menggema di kepalaku, meski telah berhari-hari sejak aku membacanya, masih takjub dengan betapa relevannya kata-kata itu dengan banyak hal.
Ketika beberapa dari kita bisa jatuh cinta hanya dalam sekelebat mata pada (si)apapun, beberapa yang lain menjadikan mencintai sebagai sebuah proses, yang kadang tak sebentar. Aku, misalnya. Seperti juga sang pemilik kalimat, aku juga tak jatuh cinta pada pandangan pertama, aku jatuh cinta setelah proses yang panjang, setelah lika-liku belajar mencintai yang melelahkan
Mencintai menjadi proses yang terhormat, karena kamu tidak hanya jatuh cinta dalam perjalannya. Kamu harus menerima, kamu harus memaafkan, kamu harus memperjuangkan,
kamu,
harus mati-matian bertahan,
setelah itu,
baru kamu jatuh cinta.
Mencintaimu adalah proses yang aku hormati
karena untuk sampai pada jatuh cinta, aku telah memberi semua yang aku mampu
aku telah melepaskan (si)apa yang pernah bertahta lama dalam
hatiku
aku telah berhenti mencari pengganti
dan mulai pada yang baru
aku telah memperluas kapasitasku untuk mencintai
karena sejatinya, yang pernah kucintai tak bisa diganti.
semua yang pernah datang, datang pada masanya, memberikan kesannya, menempati tempatnya
lalu pergi ketika waktunya.
karena,
cinta itu datang dan pergi.
selalu.
Terimakasih, untuk pencerahannya.
Selamat berjuang,
di jalan cinta para pejuang.
Dan oh, aku tak sedang berbicara soal laki-laki.
Aku berbicara soal hidup.