Friday, September 19, 2014

Ada dua alasan ketika Ayah mendengkur
Pertama, flu berat di musim hujan
Kedua, hari yang luar biasa melelahkan

Dengkuran mahadahsyat Ayah bisa terdengar hingga ke kamar mertuanya
Tapi Ayah tak mau mengaku dirinya mendengkur

Sudah dua minggu teteh tidak bertemu Ayah
Karena Ayah mendadak menjadi manusia paling sibuk sejagad raya
Teteh kangen, Yah
Sedang dalam tahap yang butuh ditopang

Tapi,
Ayah sedang berjuang, ya?
Untuk teteh, untuk adik-adik juga.
Seperti yang selalu Ayah bilang, Ayah sedang ikhtiar.

Tapi tadi pagi, samar-samar terdengar dengkuran dari kamar Ayah
Hati teteh deg tiba-tiba
Ayah sudah lama tidak mendengkur
Bahkan tidak di musim hujan

Pulang pukul berapa malam kemarin, Yah?
Ketika teteh tidur pukul setengah satu, Ayah belum datang
Pukul dua ya, Yah?

Ayah sudah lama tidak mendengkur
Pasti belakangan hari Ayah melelahkan bukan main, ya?

Bahkan sekarang sudah pukul satu, Yah
Tapi jarak kita bahkan masih puluhan kilo meter
Cepat pulang, Yah
Biar cepat tidur

Besok pagi sepertinya Ayah akan mendengkur lagi, ya?
Tidur yang nyenyak, Yah
Istirahat yang cukup
Kalau Ayah mendengkur, bagian kecil di hati ini sedikit sakit, Yah

Ayah, maaf karena menjadi alasan di balik dengkuran itu
Terimakasih sudah mau berikhtiar untuk teteh dan adik-adik

Yah, teteh baru tahu
Ceramah Ayah yang hebat di kala sore tidak pernah membuat teteh menangis
Tapi,
Dengkuran Ayah pagi tadi ternyata bisa.

Cepat pulang, Yah
Biar cepat tidur.




Wednesday, September 10, 2014



Dan pada akhirnya kita semua harus berjalan ke arah yang berbeda, tidak tahu apa kelak akan bertemu lagi atau tidak, meski doa ketika kening menempel dengan sajadah tak pernah lepas, tapi kita semua sudah tahu, rencana Tuhan yang Mahabaik itu selalu jadi rahasia.