Monday, July 30, 2018

[Cinta Pertama]

Kuperkenalkan kamu pada cinta pertamaku.

Dengannya, aku menghabiskan sisa hari berbincang bersama tentang banyak hal. Aku tak takut mengungkapkan apapun karena dia telah menerimaku untuk aku yang apa adanya.

Dia cinta pertamaku,
yang dari teduh matanya membuatku begitu percaya, di dunia yang terkadang tak ramah ini, ada yang berjuang melindungiku dengan sebegitu besarnya.

Dia cinta pertamaku,
yang dalam nada khawatirnya, dalam ungkapan kasih penuh canggungnya, ku temukan makna cinta yang sesungguhnya.

Kasih sayangnya menumbuhkan, tak mengekang dan memiliki,
ia melepaskan,
membiarkanku terbang dalam cakrawalaku sendiri,
sembari terus setia menjadi tempatku pulang, kapanpun.

Dia cinta pertamaku,
yang dalam ketidaksempurnaannya, dalam kurangnya, memahamkanku bahwa pada akhirnya, cinta terbaik adalah tentang mengusahakan bukan kesempurnaan.

Dia cinta pertamaku,
yang restu dan ridhanya kutempatkan diatas rasa ataupun keinginan.

Dia cinta pertamaku,
yang peluh keringatnya berjuang,
lelah raganya bekerja,
tulus hatinya mengasihi
kerut ujung-ujung matanya,
telah membuatku terus menjaga diri dan hati dari segala yang tidak boleh aku tembus,
berusaha agar tak pernah ada yang akan ku persilakan masuk tanpa membawa restunya ketika mengetuk pintu hatiku
demi menjaga kehormatannya, menjaga martabatnya, menjaga perasaannya,
agar hatinya selalu tenang mengetahui, anak perempuannya baik-baik saja disini.

Dia, tetap dan akan selalu jadi cinta pertamaku.

Selamat ulang tahun, Ayah! :)

Wednesday, July 11, 2018

Cinta dan Pilihan



Beberapa hari yang lalu aku mendapat sebuah nasihat baik, yang kemudian kutulis dan kutempel di dinding kamar;

"Cinta kita kepada Allah akan terlihat dari pilihan-pilihan yang kita ambil"

Sebuah nasihat yang cukup membuat tertegun dan menyadari, bahwa dari semua kelumit pikiran, kebimbangan hati, keraguan yang menyelimuti atas setiap pilihan-pilihan hidup, ada satu prinsip mendasar yang selalu bisa dijadikan landasan memutuskan; cinta kita kepada Allah.

Nasihat itu kemudian membuat beberapa pertanyaan muncul, apakah pilihan-pilihan kita kemarin, pilihan-pilihan kita hari ini, pun pilihan-pilihan kita esok, adalah pilihan yang kita buat atas besarnya cinta kita kepada Allah? Pilihan yang kita buat dengan orientasi semata-mata hanya pada Allah?

Tentunya, jika kita benar menghamba, Allah menjadi alasan pertama kita memilih. Bukan yang terbaik menurut kita, tapi yang terbaik menurut Allah. Bukan karena cinta pada manusia, tapi karena cinta pada Allah.

Untuk siapapun yang sedang menghadapi pilihan-pilihan, semoga besarnya rasa cinta kepada Allah, mengantarmu memilih pilihan-pilihan yang Allah ridha atasnya :))

Sunday, July 01, 2018

Ada satu kejadian ketika aku sedang bermain dengan anak-anak di Plosorejo kemarin. Diantara sekitar 15-an anak yang ikut bermain, ada satu anak yang dikucilkan, diledek, dan dibully oleh teman-teman lainnya.

Tentu yang membuat menarik bukan perkara ada praktek bullying disana, karena ku yakin hal itu bukan hal aneh baik di lingkup anak-anak ataupun dewasa, baik di dunia nyata maupun maya.

Yang membuatku tersadar akan suatu hal adalah ketika aku melihat nenek dari anak tersebut (yang ku taksir usianya diatas 80 tahun) datang memarahi dan mengejar anak-anak lain yang membully cucunya, tidak sampai disitu, nenek itu membawa batu yang kemudian dilempari pada anak-anak.

Berbahaya? Tentu. Kalau batu itu sampai melukai, urusan bisa panjang. Dan apa kalian merasa tindakan nenek itu berlebihan sebab yang dihadapi anak-anak? Iya aku juga merasa begitu.

Tapi poin-nya bukan disitu.

Poinnya adalah kadang kita lupa, setiap manusia yang kita hina, yang kita "bully",yang kita cela,

mereka adalah manusia yang punya orang-orang yang begitu mencintai mereka,
yang membesarkan mereka dengan penuh perjuangan dan penuh kasih sayang
yang peluh keringatnya, lelah raganya ditujukan untuk berjuang demi mereka,
orang-orang yang tak pernah luput bersimpuh di atas sajadah merapalkan doa-doa baik untuk mereka

Kita kadang lupa, mereka sangat berharga bagi keluarganya, bagi bapak-ibuknya, bagi orang-orang yang mencintainya.

Maka bayangkan, perihnya hati mereka bila mereka tau segala kata sampah yang pernah kita sematkan pada orang yang dicintainya. Marahnya hati mereka bila mereka tau segala perlakuan buruk kita padanya

Atau bayangkan saja, hancurnya hati ibuk-bapakmu sendiri, yang cium dan peluk penuh ragunya itu masih mengantarmu hingga depan pintu sebelum kamu pergi, bila kamu disakiti, dihina, diolok-olok oleh oranglain.

Sehingga ketika kamu menghinanya, melukainya, membullynya hingga sakit hatinya, kamu tidak hanya telah zalim kepadanya, kamu juga zalim kepada seluruh yang mencintainya.