Sudah capek karena membahas hidup yang galau terus, capek ngisi postingan blog dengan kagundahan hati soal susahnya hidup, yang padahal susah senangnya hidup itu tergantung sudut pandang dan perspektif sendiri. Yang sebenernya kita bisa bahagia kalau mau, bisa sedih juga kalau mau. Jadi mari membicarakan hal yang agak baru, tentang masa depan.
Saya suka rada-rada gimana gitu kalau bahas tentang masa depan, biasanya menghela nafas dalam-dalam karena i have no idea about it. At all.
Tapi mungkin definisi masa depan bagi setiap orang berbeda, bagi sebagian anak-anak, masa depan mungkin adalah ketika tidur tidak lagi diatas kardus bekas yang keras, ketika selimut bukan lagi angin malam, dan atap rumah bukan lagi hitamnya langit. Bagi sebagian anak lainnya masa depan adalah ketika mereka bisa memakai jas dan dasi sebagus dan serapi ayah mereka, atau bisa memiliki baju dan kotak perhiasan sendiri secantik yang ibu mereka punya
Dan bagi seseorang yang saya kenal dengan baik masa depan itu sederhana, ketika bunyi perut kelaparan tidak lagi menjadi teman sebelum tidur.
Bagi teman-teman saya sekarang, masa depan mungkin adalah ketika rencana dan mimpi yang mereka rancang dalam otak mereka bisa terwujud suatu saat nanti. Dan mereka adalah visioner, punya mimpi yang besar gak ece-ece doang.
Ya, kalau mendengar mimpi-mimpi itu terlontar dari mulut mereka saya suka takjub sendiri, orientasi pemikiran mereka bukan lagi hari esok tapi sepuluh dua puluh tahun kedepan.
Bagi orang-orang muda seperti om dan tante saya, yang baru menjadi para orangtua muda, yang baru mulai menjajaki karir dalam hidupnya. Masa depan mungkin adalah ketika seluruh kerja keras mereka menghasilkan sesuatu yang pantas. Ketika anak-anak mereka bisa tumbuh dan bersekolah dengan baik. Ketika mereka sebagai orang-orang muda mampu mencapai kata sukses yang paling tinggi.
Bagi orangtua saya, masa depan mungkin adalah ketika akhirnya mata mereka menjadi saksi atas keberhasilan anak-anaknya. Ketika mereka merasa bahwa segala perjuangan dan pengorbanannya terbayar
Bagi adik-adik saya, masa depan mungkin ketika mereka tidak lagi harus meminta uang pada ayah dan ibu, ketika mereka punya kebebasan untuk membeli apa yang mereka sukai.
Dan bagi saya,
Masa depan adalah ketika akhirnya saya mengerti apa sesungguhnya fungsi saya di jagad raya ini, ketika saya tahu bahwa saya bukanlah sekedar makhluk hidup yang hanya hadir di dunia, bukan hanya seorang Homo sapiens yang hidup hanya agar dapat terus menghisap O2 dan mengeluarkan CO2, tapi jadi hamba Tuhan yang berfungsi juga.
Bagi saya, mungkin masa depan adalah beberapa tahun lagi ketika saya mampu mendapat gelar yang saya impikan, mampu berdiri dengan bahagia dan melihat kedua orang tua saya tersenyum bangga.
Ketika saya bisa bekerja di bidang yang saya sukai. Bekerja untuk pekerjaan yang saya lakukan dengan ikhlas, bekerja tanpa membuat saya mengeluh dan merasa bosan.
Suatu hari nanti dimana saya bisa menaiki puncak tantangan, ketika saya bisa mencicipi rupa-rupa pengalaman hidup, bisa memecah ketidakmungkinan dari mimpi saya yang kata orang tidak mungkin.
Dan mungkin,
Masa depan itu adalah waktu ketika dunia akhirnya mengirimkan seseorang yang bisa membuat saya mengerti mengapa orang bilang jatuh cinta itu menyenangkan.