Obrolan ringan dengan ayah sore tadi yang -selalu- membuka fikiran jadi lebih terarah, yakin dan ngangguk-ngangguk sendiri. Selalu ada cara menyampaikan hal yang agak rumit menjadi hal yang mudah dipahami. Tentang prinsip, kedudukan, komitmen, usaha, kerja keras terlebih dasar dalam hidup. Sudah sebegitu gedenya kah? Sampai obrolan di sore hari bukan lagi tentang bertanya pr, bukan lagi tentang 'temen yang nakal', bukan lagi tentang kartun baru, tapi tentang nasihat untuk memilih banyak hal dalam lintasan hidup nantinya.
Menjadi diri sendiri, melihat pengorbanan dan belajar untuk peduli, membuka mata lebar-lebar dan sadar bahwa mereka -secara tidak langsung- adalah orang-orang yang pantas untuk mendapatkan kebahagiaan.
Ku selalu merasa, secara akademis otakku masih kalah jauh dengan banyak orang di sekitarku. Ditambah rasa malas yang meski sudah mati-matian dihilangkan, selalu punya 1001 cara untuk menginfeksi lagi. Lalu untuk semua yang telah dicapai itu, dari mana?
Maksudnya, ketika dulu bisa masuk 5 besar misalnya, aneh, heran. Tuhan adil kan? Bukannya gak bersyukur, tapi ada orang yang belajar jauh lebih keras, yang 'ingin' lebih kuat, tidak mendapat kesempatan untuk itu.
Terus kok aku ya? Yang -jujur- selalu merasa ketika belajar, ulangan dsb belum -selalu belum- memberikan kemampuan terbaik yg ku punya. Modalku ya cuma belajar, doa dan jujur itu doang. Dan ternyata orang itu enggak. Sayang ya. Usahanya udah sampai batas maksimal, keinginannya udah mengepul-ngepul, tapi akhirnya kandas karena curang. Tuhan itu adil, dan keadilan itu datang pada waktunya. Dan lihat, tempat terbaik, untuk orang terbaik. Gak peduli seberapa orang hebat dalam curang, toh mereka yang menduduki posisi terbaik itu selalu yang jujur dan rajin kan? Jujur itu modal awal. Selebihny percaya aja, hasil ya urusan nanti. Menurut pengalamanku, semenjak memutuskan untuk tidak melakukan hal-yang-disebut-kebiasaan itu, kejujuran dan usaha adalah dua porsi terbesar dalam menentukan hasil akhir. Jadi ya jujur aja.
Tapi hari ini, ku udah bertekad. Kalo jujur doang tapi usahanya gak maksimal ya gak bisa dibenarkan juga kan? Apalagi mengingat obrolan tadi, karena itu usahanya harus lebih keras. Lebih, lebih keras. Ketika apa yang kita perjuangkan bukan semata untuk diri kita sendiri, tapi untuk mereka, orang-orang yang menggantungkan harapan dan do'anya di pundak kita. Yang meminta kita menjadi contoh bagi yang lainnya. Yang meminta kita memberikan perubahan kecil dari takdir.
Kalau aku gagal bukan hanya aku yang akan sedih. Tapi mereka. Orang-orang yang telah menggantungkan harapan dan mimpi itu di pundakku. Yang berharap aku bisa menjadi contoh bagi anak-anaknya. Yang berharap jejak langkahku bisa menjadi peta yang bisa mereka pakai nantinya. Mudahkan, kuatkan Ya Rabb.
Dan mungkin karena itu pula untuk semua yang telah dicapai. Kalau aku memang nyatanya tidak terlalu pantas untuk itu, mereka sangat pantas untuk mendapatnya dan mungkin melaluiku. Karena mereka terlalu baik, terlalu berharga untuk dikecewakan. Percaya, kesabaran itu akan dibalas, dengan lunas.
Lagi-lagi ya Rabb, terimakasih sudah membuka satu lagi relung yang selama ini tertutup rapat, melalui obrolan hangat dengannya tadi sore. Sudah mengingatkan:) semoga nasihat seperti itu tidak akan pernah putus. Sampai kapanpun.
No comments:
Post a Comment