Wednesday, March 13, 2013

tentang value



Leo Tolstoy dalam Anna Karenina pernah bilang;

"Happy families are all alike, every unhappy families are unhappy in its on way"

Seperti yang berjuta orang sudah pernah sampaikan, keluarga memang nyatanya adalah support system pertama dan utama bagi seseorang. Disana pertama kali seseorang seharusnya mendapat kasih sayang, perhatian, pendidikan moral, agama, dan etika yang cukup.

Meski Tolstoy bilang bahwa "happy families are all alike" tapi ada satu hal yang ingin kutambahkan, meski sama, tapi setiap keluarga --yang bahagia ataupun tidak-- punya nilainya masing-masing. Punya valuenya masing-masing, yang diajarkan, diturun-temurunkan pada anggota keluarganya, yang menentukan "bahagia" tidaknya keluarga itu meski --tentu saja-- definisi bahagia itu bisa berbeda satu dengan yang lain.

Perbedaan value ini mulai aku sadari ketika mulai ada di bangku SMA, dengan teman-teman yang lebih beragam dan dengan masa depan yang sedikit demi sedikit sudah mulai dipetakan. Disana aku menyadari bahwa aku membawa dan menggenggam value yang berbeda dengan teman-temanku.

Keluargaku membawa value yang setelah aku pikir-pikir begitu sederhana namun bermakna. Kedua orangtuaku sangat menjunjung tinggi kejujuran dan idealisme. Sehingga, aku terbentuk seperti itu. Dari hal kecil seperti jujur di sekolah, cara belajar, hingga hal-hal seperti pemilihan sekolah, pemilihan kegiatan non-akademik, pemilihan karir orangtua dsb semuanya dilakukan dengan dua value itu. Semasa sekolah, aku tidak terbiasa melihat orang mencontek, karena ketika pembangian rapot, meski disana ada nilai 4 sekalipun, orangtuaku tidak pernah marah. Asal jujur, ucapnya selalu. Jadi aku tak pernah masalah nilaiku jelek, orangtuaku juga tak pernah mempermasalahkannya. Tapi justru karena aku tahu mereka gak akan marah, ada sedikit motivasi tambahan untukku selalu belajar lebih giat, jadi jaman SMP prestasiku lumayan, meski tidak gemilang.

Aku bahkan tidak dididik untuk punya pekerjaan yang keren, jabatan yang tinggi, gaji yang besar. Sehingga urusan material seperti itu tidak pernah banyak mengganggu pikiran dan menjadi tujuan utama. Padahal itu tujuan mayoritas teman-temanku.

"Ayah gak akan bangga kalau teteh jadi pejabat, kalau tujuannya cuma jabatan aja. Nggak akan bangga kalau teteh kerja di perusahaan besar tapi keluarga terbengkalai. Punya uang banyak tapi gak peduli dengan sesama. Ayah bangga kalau tau apa yang teteh lakukan bermanfaat untuk orang banyak" nasihat Ayah, nyaris di setiap topik soal masa depan diangkat. Maka value itulah yang kemudian terbentuk.

Value. Pada akhirnya sepenting itu untuk dibangun di keluarga, dan semelekat itu untuk selalu dibawa kemana-mana.

Semua value yang ditanam itu kemudian terpatri menjadi sebuah keyakinan bahwa; "Tangga naik kita bukanlah kepandaian dan kekayaan kita. Tangga naik kita adalah kemanfaatan kita." 

Dan kalau Ibuk bilang, kebermanfaatan bukan melulu perkara hal besar, kok. Bukan melulu 1000 paket sembako yang dibagikan, bukan. Kebermanfataan seharusnya dilakukan dalam setiap sikap, perbuatan, keputusan. Sesederhana dari bagaimana kita menyusun niat dan orientasi dalam berperilaku. Belajar, bekerja, berdiskusi, bahkan membaca buku dan kegiatan lain yang kesannya "cuma untuk diri sendiri" bisa jadi sebuah kebermanfaatan, tergantung niat dan orientasinya.

:)

.

No comments:

Post a Comment