Tadi baru saja menonton tayangan tentang Indonesia Mengajar yang di prakarsai oleh Prof. Anies Baswedan, tayangan itu menceritakan tentang seorang pengajar yang ditempatkan di pelosok Indonesia.
Banyak dari mereka adalah lulusan universitas ternama dan orang-orang berprestasi lalu mengabdi untuk turun ke tempat paling bawah demi memberikan harapan yang lebih baik untuk anak-anak Indonesia.
Berikut adalah foto yang saya dapat dari Om Google tentang Indonesia Mengajar.
Menjadi seorang pengajar di tempat seperti ini, dengan anak-anak polos yang sedang sibuk-sibuknya merangkai mimpi pastilah jauuuuh lebih menyenangkan daripada mengajar di sekolah hebat dengan murid-murid luar biasa pintar seperti teman-teman saya.
Saya sangat kagum sama orang-orang yang bisa berkorban untuk orang lain dengan sangat tulus dan lalu keluar dari comfort zone mereka dan belajar merasa nyaman di uncomfort zonenya itu. Pasti hidup seperti itulah yang benar-benar berwarna dan penuh tantangan.
Kalau saya melihat pada mimpi yang terangkai dari orang-orang sekeliling saya, saya memang selalu takjub. Mimpi mereka sudah digantungkan setinggi langit dan menjadi salah satu harapan-harapan indah yang membuat saya lebih terpacu untuk terus meraih yang terbaik. Tapi kalau saya melihat orang-orang berdedikasi seperti pengajar-pengajar itu, saya tahu kadang mimpi yang begitu berharga adalah mimpi yang sangat sederhana, memberikan manfaat pada orang lain.
Kalau kita fikir, memang apa yang mereka cari dan dapatkan dari turun ke daerah pelosok, tinggal di rumah sederhana, jauh dari kemudahan, meninggalkan keluarga? Mereka tidak mendapatkan kekayaan atau uang. Tapi rasanya mereka mendapat yang lebih dari itu. Menjadi salah satu orang yang ikut berjuang agar masa depan anak-anak disana lebih baik, menjadi saksi dari rangkaian mimpi-mimpi mereka, menjadi bagian dari cerita perjuangan mereka, mungkin adalah hal yang jauh lebih beharga dari sekedar gelimang uang dan kekayaan.
Karena tidak ada salahnya, sedikit saja waktu dalam hidup kita, kita merasakan pengalaman sehebat itu.








No comments:
Post a Comment