Dan meski masalah pulang dan pergi ini sudah jadi bagian dari rutinitas. Meski jarak 591 km yang memisahkan tidak lagi semengejutkan dulu. Meski ada lingkaran-lingkaran baru disana yang membersamai,
Nyatanya pergi masih tidak mudah, dan pulang akan selalu jadi hal yang ditunggu.
Meski sekarang aku tidak lagi nangis ketika dipeluk ibu erat sebelum melaju,
Tapi ibu yang masih menyeka kedua matanya menunjukan, perpisahan dalam bentuk apapun, meski hanya dalam waktu singkat, memang tidak pernah mudah.
Dan karena itu pun aku tahu, mereka punya hak untuk rindu meski bukan aku yang berkewajiban membayarnya lunas karena kita sama sama paham; ada kebaikan yang lebih besar yang ingin dicapai. Tapi, untuk apa segala gemilang mampu dicapai, segala cita mampu diraih, ketika tak ada siapa-siapa untuk kita kembali pulang. Karena itu, aku memilih menjadi bagian dari orang-orang yang menyempatkan diri untuk datang tiap kali aku bisa.
Ya, hidup harus dijalani. Senang sedih adalah dinamika yang selalu berganti. Meski terseok-seok atau berjalan sambil menangis. Meski merasa di atas awan dan hidup berwarna setiap hari. Hidup harus tetap dijalani.
Dan dalam setiap langkahnya, tentu saja, disyukuri.
Semoga empat bulan kedepan banyak ilmu yang bisa memberi manfaat, banyak kebaikan yang dipetik, banyak pemahaman baru yang diterima.
Semoga empat bulan kedepan, langkah dan hati ini dikuatkan, dilapangkan dan dijauhkan dari segala keburukan prasangka.
Semoga empat bulan itu sebentar saja.
No comments:
Post a Comment