Monday, November 19, 2018

Kemarin, selepas zuhur, aku lajukan motor ke Karanganyar bersama seorang kawan untuk mengantarnya pulang. Di jalan kami banyak bicara tentang masa depan. Tak terasa, dunia kampus dan seisinya mungkin akan berakhir dalam waktu yang tidak lama lagi.

Setelah selesai mengantarnya sampai pintu rumah dengan sehat dan selamat, aku memilih kembali ke Solo melewati jalan yang lain. Kebetulan temanku tinggal tak jauh dari Desa Binaan yang selama 2 tahun terakhir ini jadi kesibukanku. Akhirnya aku belokan motor dan memilih pulang lewat desbinku (ah, desbinku), Plosorejo.

Langit sudah mendung sore itu, tapi aku memilih berkendara dengan pelan-pelan. Sesekali belok masuk ke gang-gang dan melihat pohon dukuh yang sebentar lagi akan memasuki musimnya.

Aku cuma berkeliling saja, sendirian. Menikmati hamparan sawah, menghirup udara dingin, sesekali menyambut senyum simpul simbah-simbah yang menghabiskan sore di teras rumahnya, juga sendirian. Ah, begitu kala usia sudah memakan raga, seringkali sendiri jadi teman satu-satunya karena anak-cucu sudah hidup masing-masing.

Lalu, aku mampir di Masjid Balai Desa, tak berapa lama, azan ashar berkumandang. Selesai 4 rakaat kutunaikan, aku berencana segera bergegas pulang. Ketika keluar masjid, aku melihat beberapa anak berlarian, sebagian lain pakai sepeda.

"Hoi Mbak!" Seorang anak menyapa.

Setelah ku lihat, ternyata mereka anak-anak yang suka ikut nimbrung ketika aku dan teman-teman sedang rapat disini.

Aku pun memilih duduk tak jauh dari tempat mereka bermain.

"Mbak ayo main 'Presiden Berkata' lagi!" U cap salah satunya.

Presiden Berkata, ternyata belum bosan juga mereka dengan permainan satu itu.

"Main sendiri lah.. kan udah aku ajarin to? Aku jadi juri aja"

Lalu mereka pun main sendiri. Tertawa. Berteriak. Sesekali saling pukul dan tendang. Kejar-kejaran. Teriak lagi. Tertawa lagi. Begitu terus.

Aku suka pemandangan itu. Selalu suka.

Di jalan pulang, yang entah mengapa terasa begitu lenggang dan panjang, suara tawa mereka masih begitu jelas di ingatan. Juga senyum simpul simbah-simbah yang sendirian di teras itu. Dan diikuti memori-memori lain di tempat ini beberapa tahun belakangan.

Tinggal sebentar lagi, segala rutinitas disini akan selesai. Akan ada wajah-wajah baru yang mungkin akan menggantikan, semoga mereka banyak belajar dari kurang dan salahku, biar jadi lebih keren. Semoga juga aku masih diijinkan untuk sesekali mampir, kalau-kalau rindu itu sudah kelewat kurang ajar untuk ditahan.

Aku engga pernah tau, melepas itu ternyata bisa bikin sedih juga. Dan gak tau kenapa juga, bisa terasa berat. Mungkin karena menyadari, masih banyak yang harus dikerjakan disini. Masih banyak 'hutang-hutang' yang harus dibayar. Masih banyak senyum-senyum yang ingin diciptakan.

Semoga pekerjaan-perkerjaan itu dirampungkan dengan baik, hutang-hutang itu dibayar dengan lunas, dan senyum-senyum itu selalu terkembang. Meski bukan aku yang akan melakukannya.

Aku kemudian mengangkat kepala melihat ke langit, lalu heran karena ternyata tidak hujan. Ah, ternyata aku menangis, ku kira pipiku basah karena air hujan. Lalu aku mengejek diriku sendiri; halah! dasar cengeng!

No comments:

Post a Comment