Seorang teman di kampus bertanya beberapa hari yang lalu:
"Mbak, pernah sakit hati gak sama perkataan orang lain? Kalau pernah ngatasinnya gimana?"
Words can hurt people. I learned that the hard way.
Beberapa pengalaman paling hebat dan personal dalam hidup mengajarkanku bahwa kata-kata bisa menyakiti orang lain (dengan sangat dalam), sehingga salah satu hal yang berubah padaku adalah sekarang aku mati-matian menjaga kata-kata (padahal dulu aku orangnya sangat blak-blakan), sesederhana karena aku tau rasanya, dan gak mau orang lain merasakannya juga. Jadi kalau ditanya pernah, iya pernah. Tapi itu juga yang membuat pertahananku semakin baik sih, pada akhirnya aku bisa mem-filter sendiri mana yang harus dimasukin hati dan tidak, pada akhirnya hanya yang benar-benar fundamental dan esensial yang “mengganggu”, semisal cuma bercandaan atau bully-an mah aku anggap itu bentuk kasih sayang aja wkwk
Apa yang dilakuin? Hmm.. aku gak bisa marah depan orang. I mean ketika aku really meant it, ketika marah beneran aku cenderung diem. Aku suka ngomel-ngomel (hm, perempuan) tapi kalau aku sungguhan marah, sungguhan sakit hati, sungguhan sedih, aku malah gak bisa bilang. Lebih sering menjauhi dulu, jaga jarak dulu. Jadi kalau sakit hati sama orang juga aku gak ngapa-ngapain, paling nangis sendiri. Bahkan cerita ke orang aja biasanya enggak wkwk.
Prinsipku yang jelas, aku gak mau marah sekedar untuk melampiaskan emosi. Banyak cara katarsis yang tidak menyakiti oranglain. Kalau aku memilih untuk marah langsung sama orangnya, aku harus memastikan marahku itu ada tujuannya, dan tujuannya baik. Misalnya, memastikan bahwa orang tersebut tahu bahwa apa yang dilakukannya itu salah dan agar mencegahnya melakukan hal yang sama pada oranglain. Memberitahu bahwa sikapnya sudah melampaui batas. Meski, jarang sekali melakukannya, karena seringnya, orang tahu kok dia salah, dia kelewatan. Jadi lebih sering diem aja.
Tapi karena aku tahu memendam luka itu tidak baik, maka aku lebih memilih maafkan saja. Dalam arti yang sebenar-benarnya (yang berarti setelahnya, kita tak lagi punya hak untuk mengungkit-ungkitnya atau bersedih atasnya). Semisal pun kamu tidak pernah dimintai maafnya, maafkan saja. Lalu berjalan kembali dengan senyum paling kerenmu karena dalam hatimu kamu sudah selesai dengan urusan itu.
No comments:
Post a Comment