Wednesday, May 02, 2018

tentang aksi


Ikut aksi atau tidak?

Ah, lagi-lagi bahasan itu selalu jadi hangat setiap kali sebuah agenda turun ke jalan dilakukan, dari dulu sampai sekarang masih saja berlari-lari di putaran perdebatan yang sama.

Bagiku, kamu akan ikut aksi atau tidak itu murni terserah padamu. Aku bahkan tidak akan bilang bahwa kami yang turun ke jalan adalah lebih baik, lebih berbuat konktrit daripada kamu yang tidak. Siapa aku yang bisa menilai demikian? Siapa aku untuk menilai apa-apa yang ada dalam hati manusia? Siapa aku untuk seolah paling tahu apa yang sudah masing-masing kita perbuat?

Pada akhirnya aku percaya, kita punya jalan masing-masing. Jalan yang kita pilih atas dasar kemana hati kita terpanggil. Jalan yang sama-sama memperjuangkan kebaikan. Meski berbeda caranya, meski berbeda bentuk kerja-kerjanya.
Yang menjadi penting kemudian adalah ketika memang kita tidak bisa membantu dalam jalan yang sama, setidaknya kita tak saling menghalangi jalan juang masing-masing. Kita tak saling menghalangi usaha-usaha kebaikan yang kita lakukan meski kita ada pada ranah yang berbeda.

Kalau berperang di medan perang dan berbakti pada orangtua adalah sama-sama jihad di mata Allah kenapa kita harus mempermasalahkan beberapa yang Allah mampukan untuk berperang dan yang lainnya Allah mampukan untuk merawat orangtua yang sedang sakit? 

Kalau turun berorasi di panasnya aspal jalanan dan duduk di kelas menjadi pembelajar yang teramat baik sama-sama kita lakukan untuk terciptanya keadaan yang lebih baik, mengapa kita mempermasalahkan perbedaan itu?

Ketika kita meneriakan keberpihakan, bukan berarti kita bebas memberikan penilaian kepada oranglain. Apalagi menuduh bahwa mereka yang tidak berdesakan di jalan, tidak gosong diterpa panasnya matahari adalah mereka yang tidak berpihak pada keadilan yang sama, pada kebaikan yang sama.

Karena sekali lagi, siapakah kita menilai apa-apa yang tidak bisa kita lihat, yang tersimpan dalam dada manusia? Biarlah segala rahasia Allah yang tentukan bingkisannya :)

Toh besok-besok ketika kita skip kuliah untuk membela adik-adik yang kena UKT mahal kita tetap butuh meminjam catatan teman ketika mau UAS, kan?

Jadi, mari banyak-banyak berdoa semoga ketika disini kita berjuang dengan cara ini, diberbagai sudut lain di bumi oranglain juga sedang berjuang lewat jalan masing-masing, lewat jalur masing-masing karena kita tidak mungkin melakukan semuanya oleh kita sendiri.

Dan terakhir, semoga apapun jalan yang kita pilih, Allah senantiasa jaga hati kita, jaga niat kita, karena hanya Dia yang mengetahui segala yang tersimpan dalam hati manusia.

Semangat! :)


No comments:

Post a Comment