Monday, June 10, 2019



Membawanya di tanganku, aku terduduk diam, masih tidak percaya. Tidak, ini bukan tentang harganya, bukan tentang fisik materinya, bukan. Ini tentang segala kepasrahan, ketidakberdayaan, keikhlasan yang menyertai semua prosesnya. Ini tentang aku yang sempat berada di ujung kebingungan, nyaris tidak tau lagi harus seperti apa. Ini tentang semua malam yang aku habiskan memutar otak, tentang siang hari penuh peluh, tentang hati yang terus menerus coba aku yakinkan "Ada Allah, tenang Ki, ada Allah, Yang Maha Memberi Jalan"

Hingga benar-benar jalan itu tersedia, aku melangkah dengan penuh haru. Merasa sangat disayang olehNya. Dan lebih dalam daripada itu, merasa tidak layak untuk semua nikmat yang Allah beri, untuk semua kesempatan yang diperkenankan, juga untuk semua ampunan.

Sekali lagi berdegup.
Dan aku belajar, dalam banyak hal kini, bahagia seringkali tak pernah cukup mewakili.
Melampaui itu,
adalah sebuah syukur yang penuh haru.

No comments:

Post a Comment