Sunday, October 11, 2020
Monday, January 27, 2020
Wednesday, December 11, 2019
Tentang Sebuah Rumah
Ada sebuah rumah yang sempat aku tinggali, 3 tahun lamanya.
Rumah itu pernah tertimpa hujan, angin topan, banjir bandang, sambaran petir. Pernah bocor atapnya, rusak pintunya, hancur dindingnya. Begitu banyak penghuninya yang datang dan pergi, kadang tercerai berai, kadang hangat selayaknya keluarga. Silih berganti, memberi warna sendiri, menghidupkan dengan caranya masing-masing.
Aku diberi kesempatan merasa, mengalami, mengenal segala rupa.
Hingga waktu membuatku perlu mencukupkan segalanya. Orang-orang bilang, saatnya memulai lembar baru.
Aku tidak tau apa itu lembar baru. Atau mengapa kita perlu segala sesuatu yang 'baru' itu. Mempertahankan (si)apa-(si)apa yang sudah ada memang apa salahnya?
Tapi begitulah mungkin semua orang menjalani hidup. Fase, kadang kita menyebutnya.
Sayangnya aku sudah terlalu cinta. Pada rumahnya, pada penghuninya. Hingga hari dimana aku harus berhenti tinggal disana, aku linglung sendiri.
Maka, sulit buatku tetap mengunjungi rumah itu. Sulit buatku tetap menemui penghuni-penghuninya. Sulit tetap seperti dulu, tanpa memunculkan lagi kenangan manis-pahitnya dalam 36 purnama yang telah terlewati. Sulit untuk memulai yang baru bila tetap merawatnya. Walau ingin, sangat ingin. Tapi akan sulit aku berjalan seterusnya, sebab ternyata aku sebegitu cintanya.
Terimakasih 3 tahunnya, Wajah Baru, Komune Karta, Rakaadi.
Terimakasih, pada manusia-manusia yang hadir mengisi. Semoga lain waktu kita bersama-sama lagi, --ya tapi tidak juga tidak apa-apa, sih. Tetaplah hidup dengan baik saja, itu cukup. Hehe
Friday, November 22, 2019
Aku hanya butuh pergi saja dari hari-harimu, kan?
Sementara atau seterusnya,
aku hanya harus jadi senyap.
Agar mudah bagimu melangkah,
menjalani apa-apa yang kamu rencanakan.
Supaya perlahan aku hilang dari sana,
selesai tak bersisa
Agar kamu terus melangkah
dan jadi hebat.
Kita memang harus sama-sama pergi,
sementara atau seterusnya,
demi menemukan lagi diri
Aku hanya harus menjelma sepi, kan?
Seumpama udara
terus menghidupimu
tanpa perlu kau sadari
Aku ingin jadi seperti itu saja,
boleh, kan?
Jadi bila nanti,
kau sejuk karena dinginnya,
kau damai karena semilirnya,
saat angin menyentuh kulitmu,
ketahuilah,
itu aku,
yang menyapamu tanpa pernah kau tau.
Wednesday, October 23, 2019
Saturday, August 24, 2019
Aku tidak ingat bagaimana mulanya kita berteman. Tapi aku ingat dengan burjo tempat kamu duduk diam mendengarkan aku yang tidak berhenti bicara. Aku ingat malam-malam penuh kantuk di atas motor sepulang dari porsima, kita lelah tapi mau apalagi. Juga tentang setiap percakapan di bawah langit-langit kosku, dengan pendingin ruangan yang selalu tidak dingin bagimu. Banyak hal yang kita bicarakan, namun mungkin lebih banyak lagi yang kita pilih simpan sendiri. Kadang kita tidak sepakat akan banyak hal, tapi tidak apa-apa, kita toh tetap berteman.
Ah, aku juga ingat, dengan sore di bundaran ISI. Kita berteriak-teriak; marah, kesal, jengkel, sedih, frustasi, entah apalagi. Sampai semua orang melirik, heran dengan dua perempuan yang sedang ribut di ruang publik.
Waktu aku masih bisa bercerita semuanya, aku bicara tanpa henti, kamu sabar mendengarkan. Waktu aku tau ada hal-hal yang tidak bisa aku ceritakan, aku cuma nangis aja, kamu juga tetap sabar duduk diam.
Eh, hahaha, kenapa momen yang aku ingat suram semua, ya?
Tapi begitulah, aku kemudian merasa punya kakak, yang siap mengengarkanku kapanpun, yang bisa memarahiku saat aku nakal, yang dihadapannya aku bisa mencukupkan diri untuk jadi kuat, jadi manja semanja-manjanya.
Manusia yang sekilas tampak keras dan galak itu ternyata bisa menjadi kakak dengan caranya yang tepat.
Meski aku yakin, punya adik macam aku bukan sebuah keberuntungan yang bagus, tapi semoga kamu tidak kapok, ya!
Kurang dari satu tahun kita berada di ruang yang sama, ternyata kita masih jadi teman makan meski masa kita itu telah usai. Dan dalam begitu singkat dan cepatnya waktu berjalan, ada banyak terimakasih untuk disampaikan. Tapi yang terbesar adalah terimakasih, karena walau aku tahu tidak mudah menjalani waktu-waktu itu, kamu tetap bertahan hingga hari ini, (meski sebenarnya, kamu punya banyak alasan untuk pergi). Terimakasih telah mau meruntuhkan dinding dirimu, kemudian mempersilakan aku masuk.
Maafku cuma untuk satu hal, maaf tidak bisa menghadiahkan jaket Levis yang kamu inginkan itu. Plis, aku bokek dan harus jajanin banyak orang, kamu tau sendiri lah posisiya :( hehe
Ohiya, jangan khawatir. Aku gak akan nakal lagi.
Emm... mbak.. dunia ini memang akan tetap berjalan dengan atau tidak adanya kamu. Tapi dunia orang-orang yang pernah kamu singgahi dan marahin dan galakin, akan jadi sedikit berbeda (meski sebentar doang, abis itu mereka lupa, sih wkwk). Jadi, tetaplah hadir menjadi sosok yang berkesan bagi orang-orang baru yang kamu temui ya!
Aku sedih kamu gak di Solo lagi. Tapi suatu malam aku pernah bangun waktu kamu lagi tahajjud, lalu aku dengar doa yang kamu munajatkan; tentang inginmu kembali ke rumah. Aku aamiin-kan juga malam itu. Dan mungkin Allah kabulkan juga doa itu; hari ini kamu pulang ke rumah. Bisa jadi untuk sementara atau seterusnya, kita tak tahu bagaimana takdir tertuliskan.
Tapi yang manapun, aku yakin kita akan bertemu lagi. Mungkin di wisudamu, mungkin di wisudaku, mungkin di pernikahanmu, atau di pernikahanku, mungkin di Pontianak, mungkin di Solo, mungkin di Bogor, atau mungkin di waktu dan tempat lain yang tidak sempat terpikirkan sekarang. Tapi aku yakin, kita akan bertemu lagi.
Sampai waktu itu tiba, hiduplah dengan baik. Jangan sering marah-marah, banyak lihat video receh saja, biar kamu lebih sering tertawa. Makan yang sehat, minum air putih yang banyak, dan tidur yang benar. Aku tidak mau bertemu dengan orang sakit ketika kita bertemu lagi.
Semoga Allah menyayangimu, selalu!
Kamu terbaik!
Thursday, August 22, 2019
Saturday, August 17, 2019
Wednesday, August 07, 2019
jadi,
Allah kan gak nilai kita dari fisik kita
gak juga dari siapa orangtua kita
gak pula dari asal suku kita
asal negara, apalagi sekedar bahasa
atau bahkan juga gak dari latar belakaang jamaah kita
tapi
dari apa yang kita lakukan
dari bagaimana hati kita dalam menghamba dan cara-cara kita dalam mencintaiNya
sudahkah ikhlas, dan sudahkah dengan cara yang benar?
maka,
tersenyumlah
dan teruslah berjalan
sebab tugas kita cuma itu;
terus berjalan, seterjal apapun jalannya, sekoyak apapun rupa alasnya
tugas kita cuma berjalan,
menunjukan kepantangmenyerahan dan ketawakkalan atas apapun ketetapan
berjalan saja, biar Allah yang menilai, biar Allah yang mampukan
Monday, June 17, 2019
ceritanya lagi sakit
Sakit yang ini juga gitu. Mungkin karena sebulan ramadhan kemarin keasyikan dengan ini-itu, dilanjut pulang dengan serba-serbi kesibukan di rumah, lalu kembali ke Solo tanpa jeda, lalu langsung bersemangat mengurus ini itu di kampus, sakit tenggorokan dan flu yang udah kerasa dari h+3 lebaran gak aku hiraukan.
Sampai akhirnya merasa agak aneh karena kedinginan di kereta. Sepanjang pasar senen-solo balapan kok badan menggigil, padahal ya kebayang lah ya dinginnya AC kereta itu segimana.
Jam 6 pagi sampe Solo, dan hari itu flu-nya masih bisa dibawa kesana kemari. Besoknya pun masih bisa ketemu beberapa orang, ikut rapat sama dosen, dan kerja depan laptop berjam-jam. Bahkan sempet seharian di rumah Nita (ceritanya gak mau sakit sendiri).
Baru kerasa pas solat ashar di masjid kampus, nelen makin sakit, sampe pas ada yang nyapa aja buat ngomong susah.
Nyampe kosan, langsung rebahan, dingiiin banget rasanya. Selimutan, tidur sampe maghrib. Malam itu akhirnya harus batalin janji dengan orang, karena buat ngangkat HP aja gemeteran.
Dua hari besoknya, seharian penuh cuma bisa di tempat tidur. Bangun buat wudhu aja rasanya perjuangan banget. Tiap berdiri, langsung kunang-kunang. Haus, tapi nelen sedikit aja sakitnya minta ampun. Laper, tapi ngunyah aja bikin mual. Kesel sendiri jadinya. Kosan juga masih sepi, sebelakang kampus sih masih sepi, jadi cuma bengong aja. Dibawa tidur pas gak kuat.
Terus dini hari kebangun. Lampu masih nyala. Jendela belum ditutup. Pintu gak dikunci.
Megang dahi, kok panas yah.. megang leher, lebih panas lagi. Tapi dingin rasanya, padahal udah jaketan dan selimutan. Hidung meler pula, bersin gak berhenti-berhenti sampe capek. Pusing udah agak ilang, tapi badan masih nyeri-nyeri. Liat sekeliling semua benda mati isinya. Buku, tugas, baju, sampah obat, laptop, hp --oh, hp yang udah gak dibuka lebih dari 24 jam--. Terakhir ada chat dari beberapa orang dekat yang khawatir, tapi kemarin mikir dibawa tidur juga sembuh, jadi gak perlu minta tolong.
Terus akhirnya merem lagi, tapi gak bisa tidur. Paracetamol udah abis. Stock obat tinggal promag, yakali minum promag kan ya. Akhirnya ambil sapu tangan, ke kamar mandi, basahin sapu tangan, dan ditempel di dahi. Ngompres.
"Kesian banget ya anak kos kalo sakit sendiri" ngebatin dalem hati.
Dan akhirnya cuma rebahan mandang langit-langit. Keinget amanah-amanah yang agak terabaikan beberapa hari belakangan. Anak-anak ada ngechat penting gak yah, aku ngeskip berapa agenda ya.. Salsa apa kabar ya di Magetan, biasanya dia suka ngirim foto selfie. Bambang kesepian gak ya di porsima, siapa yang nemenin makan. Idos, masih betah po ya dia di Tegal, balik Solo motoran gak ya..
Terus jadi keinget Ibu sama Ayah. Keinget hari tua mereka kalo sakit anak-anaknya ada gak ya buat nemenin. Kalo lagi sakit, pengennya deket sama yang disayang kan ya.. tapi kemarin ayah sakit berbulan-bulan aja aku nyempetin pulang susah banget. Gini kali ya rasa sepinya Ayah waktu sakit kemarin. Kalau aku abis nikah tinggal jauh, mereka siapa ya yang nemenin. Aku bisa sering-sering nengokin gak ya. Huhu semoga nanti suamiku juga sayang ya sama Ibu dan Ayah, dan aku juga ingin bisa menyayangi Ibu dan Bapak dia seperti orangtuaku sendiri (oke, ini udah ngelantur, maklum sakit)
Terus keinget adek-adek. Esa apa kabar di Gontor.. pasti udah kurusan. Dia dimarahin ustadz lagi gak ya. Ica siapa yang nganter terapi ya, dia kalo tidur suka nempel-nempel, kasian ya kalo tidur sendiri. Keinget 3 sepupu yang baru ditinggal Ayahnya. Masih kecil-kecil, belum begitu paham apa-apa. Allah lagi nyiapin cerita hebat apa ya buat mereka.
Akhirnya sadar banget, kita itu gak berdaya ya. Bahkan buat jagain orang-orang yang gak seberapa jumlahnya aja kita bisa ada di posisi gak sanggup. Gak sanggup buat sekedar buka hp terus ngechat nanya kabar.
Sekuat-kuatnya kita, seberkeringat-keringatnya kita berusaha untuk selalu ada, jagain, menyayangi, mengurusi orang-orang yang kita sayang, kita bisa ada di posisi lemah-tak berdaya-menggigil-ingusan-demamtinggi-kleyengan-lemes-nelensakit-gakkuatbangun-cumabisatidurandikosansendiri, yang bikin kita gak bisa jagain mereka dengan dua tangan kita sendiri. Dan mungkin kita semua gak lama kan ya barengan. Kesementaraan itu mutlak di dunia. Jadi mungkin suatu hari kita sama sekali gak bisa ada buat mereka.
Lama-lama pipi udah basah aja. Lemah emang.
Terus,
keinget Allah...
Akhirnya ke kamar mandi lagi. Ambil wudhu. Berterimakasih dan minta tolong sama Allah, udah selalu jagain dan untuk terus jagain dan menyayangi mereka.
Semua yang gak bisa aku jaga dengan tanganku sendiri, ada Allah yang jagain. Kok ya aku khawatir, padahal Allah yang bakal menjaga lebih baik dari (si)apapaun. Aku bisa lemah dan gak berdaya, tapi Allah Maha Kuat, Maha Berdaya.
Semua yang berbatas jarak, yang terbatasi oleh ruang dan waktu, yang gak bisa kita lihat setiap hari, yang gak bisa deket terus, nyatanya Allah yang akan selalu dekat dengan mereka. Jadi semoga di segala hari yang dilewati, entah sepi atau teduh, entah sakit atau sibuk, Allah selalu dekat dan membuat mereka merasa dekat denganNya yah.
Solat dini hari itu akhirnya berasa sangaaaat lama. Paling mendamaikan juga. Paling menghangatkan. Sampe ketiduran masih pakai mukena di atas sejadah dan kebangun pas subuh. Dibanding tidur dua hari terakhir, kayanya tidur yang gak seberapa itu kerasa lebih nikmat.
Terus raba-raba lagi badan, dan masih sama panasnya, hidung masih meler, tenggorokan masih nyeri, kaki masih lemes. Berdiri buat wudhu lagi juga masih kunang-kunang. Tapi hati kok adem yah rasanya. Tenang. Nikmat.
Gak apa-apa (:
*ditulis ketika (alhamdulilah) sudah sehat cerdas ceriaaaa :))
Monday, June 10, 2019
Membawanya di tanganku, aku terduduk diam, masih tidak percaya. Tidak, ini bukan tentang harganya, bukan tentang fisik materinya, bukan. Ini tentang segala kepasrahan, ketidakberdayaan, keikhlasan yang menyertai semua prosesnya. Ini tentang aku yang sempat berada di ujung kebingungan, nyaris tidak tau lagi harus seperti apa. Ini tentang semua malam yang aku habiskan memutar otak, tentang siang hari penuh peluh, tentang hati yang terus menerus coba aku yakinkan "Ada Allah, tenang Ki, ada Allah, Yang Maha Memberi Jalan"
Hingga benar-benar jalan itu tersedia, aku melangkah dengan penuh haru. Merasa sangat disayang olehNya. Dan lebih dalam daripada itu, merasa tidak layak untuk semua nikmat yang Allah beri, untuk semua kesempatan yang diperkenankan, juga untuk semua ampunan.
Sekali lagi berdegup.
Dan aku belajar, dalam banyak hal kini, bahagia seringkali tak pernah cukup mewakili.
Melampaui itu,
adalah sebuah syukur yang penuh haru.
Tuesday, May 28, 2019
dari sejak Sina baru masuk TK kecil, hingga dia kemarin Ujian Naik Kelas 3,
dari Feby yang malu-malu bicara, hingga dia yang sekarang berisiknya minta ampun,
dari Sita yang masih anak tunggal, hingga sekarang adiknya sudah 2,
dari aku yang masih Maba, hingga aku yang tengah bersiap mencukupkan kampus dan seisinya,
terimakasih, telah menjadi salah satu lingkaran terbaik yang pernah merangkulku dengan hangatnya, dan begitu setianya hadir dari awal hingga akhir,
menjagaku tetap waras dengan segala rupa-rupa rasa jadi mahasiswa,
sudah saatnya,
tenang saja,
anak-anak akan tetap tumbuh dengan baik bersama adik-adik kita,
semoga aku diperbolehkan untuk sesekali mampir,
untuk sekadar mengunjungi kisah-kisah yang dulu melantun dengan indah
Sunday, May 26, 2019
Akhirnya hari ini usai. Aku merebahkan diri, menyalakan pendingin ruangan, menatap langit-langit. Berpikir, atau lebih tepatnya mengawang-ngawang.
Lama, hingga akhirnya aku berakhir disini.
Hari ini banyak yang terjadi, banyak yang aku lakukan, juga lalui. Dan aku terheran, mengapa aku tak kunjung terlelap, padahal jelas-jelas aku lelah.
Ah, mungkin, bersebab kepala dan hati masih belum usai terus bekerja. Walau badan sudah meronta-ronta minta istirahat.
Aku tadi menangis. Dan mungkin sebenarnya bisa kembali menangis saat ini, tapi aku tidak memilih melakukannya. Aku memilih berdiam saja, menatap langit-langit.
Dulu, aku pernah merapal doa, memohon suatu hal. Dan sepertinya Allah mengabulkan doa itu, memberiku hal yang aku pinta.
Dan ketika Allah jawab doa itu, aku menangis. Tapi tidak tau persis mengapa aku menangis. Jelas karena aku sedih, sih. Tapi, juga mungkin karena dalam suram sedih itu, aku juga bahagia. Atau aku hanya sedang mengerahkan tenaga untuk melepas, dan agak sedikit melelahkan dan menggores sedikit, itu saja.
Tak apa-apa tapi, aku begini sebentar saja.
Aku pernah ada dalam posisi yang sama,
sebab itu, aku masih dan akan selalu memercayai hal yang sama.
Bahwa Allah adalah sebaik-baik perencana.
Selamat beres-beres diri, Az,
selamat berbenah,
kuncinya selalu sama seperti yang lalu-lalu; kamu hanya harus tetap jadi baik,
baik niatmu, lakumu, ucapanmu, dan prasangkamu padaNya.
Apapun yang terjadi.
ingat, Allah ada,
ia tau apa yang pernah dan masih kamu harap,
sehebat apapun kamu menyangkalnya,
tapi kamu selalu bisa memilih, doa seperti apa yang kamu munajatkan,
dan semoga kamu hanya akan selalu mengijinkan dirimu untuk merapal doa-doa baik, yaa!
tetap tersenyum!
Monday, May 20, 2019
Semoga pada setiap kisah yg kita dengar, kita ketahui, kita lihat, Allah izinkan hati kita untuk mampu menghimpun hikmah,
yang banyak,
yang baik.
Lalu menutup rapat kecenderungan hati untuk berprasangka yang tidak semestinya,
terhindar untuk menilai apa-apa yang bukan bagian kita untuk nilai
Selalu ingat,
sebagian keburukan tersembunyi,
tapi begitupun sebagian kebaikan,
semoga kamu terus belajar untuk membuka ruang itu,
ruang penerimaan untuk segala kekurangan.
ruang penghargaan untuk setiap kebaikan.
bagi oranglain,
dan terlebih bagi dirimu sendiri.
tetaplah baik dalam berprasangka, ya Ki
pada Allah,
juga pada sesama.
Saturday, May 18, 2019
Tuesday, May 14, 2019
Beberapa akan singgah untuk sebentar, beberapa akan tinggal lebih lama, dan sedikit sisanya akan jadi orang-orang yang dengannya kita habiskan sisa waktu yang dianugerahkan pada kita.
Kita akan punya teman.
Sebagian besar mungkin hanya akan kita ingat namanya. Tapi beberapa akan jadi sahabat yang dengannya kita senang berbagi apapun. Kita akan banyak berantem pastinya, dan mungkin akan saling membenci, tapi kita juga tau kita selalu punya satu sama lain kapanpun itu.
Kita akan jatuh cinta, tentu saja.
Mungkin dengan satu, mungkin juga dua, lima atau tigabelas orang yang berbeda dalam (mudah-mudahan) waktu yang berbeda. Hingga suatu hari kita bertemu dengan seseorang --yang mungkin tidak kita cinta banyak-banyak--, tapi cukup berani untuk kita ajak bersepakat menapaki jalan ke depan bersama, entah hari nanti kita sedang saling cinta atau sedang saling benci.
Selama perjalanan kita, kita akan bikin cerita sama orang.
Kadang kita jadi pahlawan dalam cerita mereka. Kadang kita jadi orang jahatnya. Kadang juga, kita cuma sekedar lewat, semacam figuran yang gak akan begitu diingat. Dan itu semua gak apa-apa.
Aku masih percaya, gak ada yang pernah dengan sengaja menyakiti orang lain dan disaat yang sama, bahagiain semua orang juga bukan tujuan keberadaan kita.
Kita cuma perlu menggenggam erat apa-apa yang kita percaya, sembari gak berhenti buat cari kebenaran. Sembari pelan-pelan memperluas kapasitas hati kita untuk syukur, untuk memaafkan, menerima, dan mengikhlaskan.
Semangat! (:
Tuesday, May 07, 2019
[Ukuran Kepantasan]
Banyak sekali waktu, dalam berbagai konteks, selalu merasa diri tidak pantas atau tidak mampu untuk meraih dan menggenggam sesuatu.
Mungkin kalian juga sering. Entah itu cita-cita yang terasa terlalu tinggi untuk diraih, pencapaian yang terasa terlalu mustahil untuk digapai, target yang terasa terlalu utopis untuk terwujud, atau seremeh dee yang terasa terlalu baik untuk diajak bersama.
Tapi to, ukuran kepantasan itu bukan kita yang menentukan batas-batasnya. Kalo kita ingat kisah Hajar, kita bisa mengambil pelajaran kecil soal ini. Bahwa kecukupan usaha yang memantaskan Hajar atas air untuk putranya Ismail adalah tujuh kalinya ia harus berlari-lari antara Safa dan Marwah. Andai ia berhenti di ketiga atau keenam, mungkin ia belum akan mencapai ukuran kepantasan itu.
Begitu pun dengan cita-cita, dengan mimpi, dengan target. Kita bertugas menyusun rencana yang matang, lalu mengusahakannya dengan sebaik-baik usaha. Urusan kepantasan akan hasil yang diharapkan dan kecukupan dalam berusaha, biar itu Allah saja yang tentukan. Selalu baik saja dalam berprasangka atas setiap ketetapan ya,
Karena, manusia sebatas mampu menilai dirinya, oranglain, situasi dan segalanya dalam keterbatasan indra, akal, dan hatinya saja, tidak bisa melihat segala yang tersembunyi. Dan yang tersembunyi itu, Allah yang Maha Mengetahuinya.
Seperti kata Rumi; kita menilai yang terlihat, Allah mengurusi yang ada di dalam hati.
Tapi yang pasti, ketika masing-masing kita dihadapkan pada suatu kesempatan, atau keyakinan hati pada tujuan, itu artinya Allah tau bahwa kita sudah siap berjuang. Berjuang dalam bersabar di segala prosesnya, pun berjuang meningkatkan kapasitas diri sampai ke titik kepantasan yang sudah ditentukan.
Tuesday, April 30, 2019
Monday, April 22, 2019
Ada juga yang marah dengan melangkah mundur, memilih meredakan hati sebelum emosi menguasai diri.
Ada yang bersedih dengan memeluk banyak orang, menangis pada banyak pundak, bercerita pada banyak telinga.
Tapi ada juga yang bersedih dengan memilih ber-air mata hanya dalam sunyinya kamar, senyapnya malam; memastikan tak ada satu raga pun yg tahu.
Ada yang memimpin dengan tegas dan gagah, dengan keras dan kuat.
Ada juga yang memimpin dengan ramah dan bersahabat, dengan akrab dan dekat.
Ada yang bilang; "Hai, aku sayang sekali sama kamu"
Ada juga yang bilang; "Masih sakit?" atau ya bahkan tanpa kata-kata bawain makan, beliin obat, ngomel-ngomel karena khawatir.
Intinya, kita punya cara kita masing-masing dalam mengelola hati juga dalam merespon setiap stimulus dari semesta.
Kita punya cara masing-masing; dalam bersedih, dalam marah, dalam memimpin, dalam berelasi, juga dalam mencintai.
Semangat, ya!
